Showing posts with label Aqidah. Show all posts
Showing posts with label Aqidah. Show all posts

Saturday, May 29, 2010

Religious and racial diversities: The painful truth



P/S: I'm not a racist or extremist.
---------------------------------------------

“The use of traveling is to regulate imagination by reality, and instead of thinking how things may be, to see them as they are.” – Samuel Johnson

True.

Before this i was always in the majority group. U know what i mean. My childhood and teenage time was spent mostly with the malays and muslims.Yes i did have non muslim friends now and then. But somehow our friendship did not last long. I am more comfortable with my buddies of 'my own kind', because we share the common values and interests, we perform the same religious rituals, and attend the same religious circles and classes.

And now in Kuching, most of my colleagues are non muslims. In each department i go, we can count the number of muslim HOs with our fingers. There was 1 time during HO teaching, i realized that out of the 30+ HOs, only 2 people are muslims, me and shaz.

Being the minority for the first time, initially it was quite hard for me to adjust. But as the time goes, i start to see things in a different way, and I enjoy the relationship that i have with my non-muslim colleagues. I found out that religious negotiations can be done and achieved, taboos can become non taboos, if we do it in a proper and professional way. I think all these religious and racial tensions happening around us are actually unnecessary. What we need is more dialogue, respect, tolerance, patience and professionalism.

The reality is, we co-exist. And things need to be changed to make the world a better place. Humanism and liberalism - now i understand why these dogmas emerged.
Do i sound like a liberalist? Hehe.

Actually, I'm challenging my thoughts.
I'm trying to rationalize the principles i used to uphold all these while and trying to get the facts straight. This is crucial, so that i have the correct understanding and my aqidah is sound. Because i do notice the changes in my thoughts, and i dont know whether it is right or wrong. Life is too complex and its realities are both bitter and sweet. And this is the painful part.

1. Love, hate and justice

If they associate others in worship with Him, or disbelieve in Him, or worship others alongside Him, or are hostile towards His religion and hate the truth, then it is obligatory to hate them in our hearts. Hating them in our hearts does not mean that we should oppress or mistreat them under any circumstances, because Allaah said to His Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him), describing what his attitude should be towards the People of the Book:
“and I am commanded to do justice among you. Allaah is our Lord and your Lord. For us our deeds and for you your deeds”
[al-Shoora 42:15]

it is permissible for a Muslim to treat kindly those non-Muslims who are not hostile, whether by offering financial help, feeding the hungry, giving them loans if needed or interceding with regard to permissible matters, or speaking kindly to them or returning their greetings, and so on. Allaah says (interpretation of the meaning):
“Allaah does not forbid you to deal justly and kindly with those who fought not against you on account of religion nor drove you out of your homes. Verily, Allaah loves those who deal with equity”
[al-Mumtahanah 60:8]


To hate and at the the same time being kind and just: I find this very difficult.

To be continued..
Read more!

Friday, November 13, 2009

Aqidah Imam 4 mazhab

Qaul Imam Syafie

1)Pegangan dalam atas sunnah Rasulullah SAW yang aku beradai di atasnya dan aku lihat sahabat-sahabat kita berada di atasnya, mereka itu Ahlul Hadis yang aku telah lihat mereka dan aku telah ambil daripada mereka seperti Sufyan, Malik dan selain mereka ialah ikrar bahawa tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, Muhammad itu Rasulullah. sesungguhnya Allah di atas Arsynya dilangitnya. Dia menghampiri sesiapa yang dikalangan makhluk-makhlukNya sebagaimana yang Dia kehendaki, Dan Allah SWT turun ke langit dunia sebagaimana yang dia kehendaki.
[Al-Wasiyyah m.s 53-58]

2)Allah Tabaraka wa Taa'la memiliki nama-nama dan Sifat-sifat yang diterangkan dalam kitabNya dan diberitakan oleh NabiNya shalallahu a'laihi wasallam kepada umatnya maka tidak ada alasan bagi siapa pun yang telah sampai di hadapanNya hujah(dalil) untuk menolaknya.
[Imam Az-Zahabi dalam kitabnya Siyar A'lam Al-Nubala jld 10,m.s 79-80]

3)Diriwayatkan dari Ar-Rabi' dan tidak hanya seorang daripada kalangan sahabat(Imam Syafie) yang terkemuka keterangan yang menunjukkan bahawa beliau (Imam Syafie) menyingkap ayat-ayat Sifat dan hadis-hadis tentangnya sebagaimana ia datang tanpa Takyif,Tasybih,Ta'thil,dan Tahrif sesuai dengan metode kalangan salafussoleh.
[Al-Hafiz Ibn Kathir,Al=Bidayah Wal-Nihayah jld. 10 m.s. 256]

4)Pendapatku tentang sunnah,di mana aku berpegang kepadanya dan juga berpegang kepadanya oleh orang-orang yang aku lihat semisal Sufyan,Malik dan lain-lain,iaitu pengakuan terhadap persaksian bahawa Allah itu di atas Arasy-Nya yang ada di langit-Nya.Dia mendekat makhlukNya menurut apa yang Dia kehendaki dan turun ke ke langit terendah menurut apa yang Dia kehendaki.
[Az-Zahabidalam kitabnya,Al-'Uluw lil-'Aliy al-Ghaffar]

5)Penyebutan dalil-dalil yang menerangkan Istiwa'Nya Allah Tabaraka wa Taa'la di atas A'rasy-Nya,dan juga athar-athar yang berasal dari kalangan salaf yang memiliki pengertian seperti ini cukup banyak jumlahnya dan ini menunjukkan kepada mazhab al-Syafi'i rahimahullah.
[Imam Al-Baihaqi' dalam kitabnya Al-Asma'was Sifaat m.s 517]


Qaul Imam Abu Hanifah 

1)Tidak disifatkan Allah dengan sifat-sifat makhluk, murkanya dan redhanya adalah dua sifat dari sifat2nya tanpa kaifiat. Dan inilah pegangan ahlus sunnah wa aljamaah. Dia murka dan redha. Tidak dikatakan murkanya azabnya dan redhanya pahalanya. Kita mensifatkannya sebgmana dia mensifatkan dirinya sendiri. Ia tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tiada sesuatu yang sama dengannya. Ia hidup, berkuasa, mendengar, melihat, mengetahui. Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka tidak sama seperti tangan makhluknya, wajahnya tidak spt wajah makhluknya.[Al-Fiqhul-Absat m.s 56]

2)Dan ketika ditanya tentang turunnya Allah SWT, Imam Abu Hanifah berkata "Ia turun tanpa kaifiat".
[Syarhul Aqidah At-Thahawiyah karya Ibn Abi Al-Izz al-Hanafi,jld 2,m.s. 472]

3)Dan sifatnya bersalahan dengan sifat-sifat makhluk-makhluk, Dia mengetahui tidak seperti pengetahuan kita, Dia berkuasa tidak spt kekuasaan kita, Dia melihat tidak seperti penglihatan kita, Dia mendengar tidak seperti pendengaran kita, dia berkata-kata tidak seperti kata-kata kita. [Al-Fiqhul Akbar m.s. 302]

4)Sesiapa berkata, aku tidak mengetahui tuhanku di langit atau di bumi, sesungguhnya dia kafir, dan begitu juga sesiapa yang berkata, sesungguhnya Dia di atas Arsy, dan tidak aku menngetahui Arsy' samaada di langit atau di bumi. [Al-Fiqhul Al-Akbar m.s. 46]

5)Tidaklah lah disifatkan Allah dengan sifat-sifat makhluk-makhluk. [Al-Fiqhul Absath m.s. 56]


Qaul Imam Malik

1)Allah di langit, dan ilmunya disetiap tempat.[Al-Siyar A'lam Al-Nubala]

2)Abu Nu'aim meriwaatkan daripada Ja'afar bin Abdillah,Imam Malik berkata:
"Cara istiwa' Nya tidak diketahui sedangkan Istiwa' telah jelas dan diketahui,beriman kepadanya adalah wajib,dan bertanya tentangnya adalah bid'ah"

3) "Mereka (Ahlul Bida'h) yang memperkatakan (memperdebatkan) masalah nama-nama dan sifat-sifat Allah,masalah kalam,ilmunya,qudratNya." [Dzammul-Kalam,jld 1,m.s 173]


Imam Ahmad Bin Hanbal

1)Abu Bakar al-Muruzi berkata: Aku bertanya Imam Ahmad bin Hanbal tentang serangkaian hadith tentang sifat-sifat, ru'yatullah (melihat Allah di akhirat), dan Isra' dan Arsy. Maka Imam Ahmad bin Hanbal mensahihkannya dan dia berkata:
'Umat ini telah menerima dan membiarkannya sebgmana khabar itu telah datang. (tanpa takwil).' 
[Al-Qadhi Abu Ya'la dalam kitabnya Thabaqatul-Hanabilah jld. 1, m.s. 56]

2)Di sifatkan Allah sebagaimana yang Dia menyifatkan pada diriNya, dan menafikan daripada Allah sebagaimana Dia menafikan dari diriNya.
[Imam Ibnul Jauzi dalam AL-Manaqid Imam Ahmad, m.s. 221]

p/s: Adakah mereka wahabi?

 


Read more!

Wednesday, May 13, 2009

Mencintai Ahlul bait

MENCINTAI AHLUL BAIT SESUAI DENGAN WASIAT RASUL SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM
Syaikh Dr Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan

Dan diantara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah mencintai ahlul bait sesuai dengan wasiat Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan sabdanya:

"Artinya : Sesungguhnya aku mengingatkan kalian dengan ahli baitku". [1]

Sedang yang termasuk keluarga beliau adalah isteri-isterinya sebagai ibu kaum mu'minin Radhiyallahu 'anhunna wa ardhaahunna. Dan sungguh Allah telah berfirman tentang mereka setelah menegur mereka.

"Artinya : Wahai wanita-wanita nabi ........". [Al-Ahzab : 32]

Kemudian mengarahkan nasehat-nasehat kepada mereka dan menjanjikan mereka dengan pahala yang besar, Allah berfirman.

"Artinya : Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan mensucikan kamu sesuci-sucinya" [Al-Ahzab : 33]

Pada pokoknya ahlul bait itu adalah saudara-saudara dekat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan yang dimaksud di sini khususnya adalah yang sholeh diantara mereka. Sedang sudara-saudara dekat yang tidak sholeh seperti pamannya, Abu Lahab maka tidak memiliki hak. Allah berfirman.

"Artinya : Celakalah kedua tangan Abu Lahab, dan sesungguhnya celaka dia". [Al-Lahab :1]

Maka sekadar hubungan darah yang dekat dan bernisbah kepada Rasul tanpa keshalehan dalam ber-din (Islam), tidak ada manfaat dari Allah sedikitpun baginya, Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Artinya :Hai kaum Quraisy, belilah diri-diri kamu, sebab aku tidak dapat memberi kamu manfaat di hadapan Allah sedikitpun ; ya Abbas paman Rasulullah, aku tidak dapat memberikan manfa'at apapun di hadapan Allah. Ya Shofiyyah bibi Rasulullah, aku tidak dapat memberi manfaat apapun di hadapan Allah, ya Fatimah anak Muhammad, mintalah dari hartaku semaumu aku tidak dapat memberikan manfaat apapun di hadapan Allah". [2]

Dan saudara-saudara Rasulullah yang sholeh tersebut mempunyai hak atas kita berupa penghormatan, cinta dan penghargaan, namun kita tidak boleh berlebih-lebihan terhadap mereka dengan mendekatkan diri dengan suatu ibadah kepada mereka. Adapun keyakinan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk memberi manfaat atau mudarat selain dari Allah adalah bathil, sebab Allah telah berfirman:

"Artinya : Katakanlah (hai Muhammad) : Bahwasanya aku tidak kuasa mendatangkan kemudaratan dan manfaat bagi kalian". [Al-Jin : 21].

"Artinya : Katakanlah (hai Muhammad) : Aku tidak memiliki manfaat atau mudarat atas diriku kecuali apa-apa yang tidak dikehendaki oleh Allah , kalaulah aku mengetahui yang ghaib sunguh aku akan perbanyak berbuat baik dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan". [Al-A'raf : 188]

Apabila Rasulullah saja demikian, maka bagaimana pula yang lainnya. Jadi, apa yang diyakini sebagian manusia terhadap kerabat Rasul adalah suatu keyakinan yang bathil.

[1]. Dikeluarkan Muslim 5 Juz 15, hal 180 Nawawy, Ahmad 4/366-367 dan Ibnu Abi 'Ashim dalam kitab As-Sunnah No. 629]
[2]. Dikeluarkan oleh Bukhary 3/4771, 2/2753, Muslim 1 Juz 3 hal 80-81 Nawawy

almanhaj.or.id
[Disalin dari buku Prinsip-Prinsip Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah oleh Syaikh Dr Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, terbitan Dar Al-Gasem PO Box 6373 Riyadh Saudi Arabia, penerjemah Abu Aasia]

Read more!

Sunday, March 1, 2009

Jahil yang dimaafkan

Soal:
Siapakah mereka yang dimaafkan atas alasan jahil? Adakah diterima alasan jahil itu dalam masalah hukum hakam? Atau dalam masalah aqidah dan tauhid? Apakah tanggungjawab para ulama' dalam masalah ini?


Jawab:
Bismillah, segala puji bagi Allah, selawat dan salam ke atas Nabi Muhammad dan seterusnya..

Terdapat beberapa perkara yang wajib -dharuriy- diketahui dalam agama (al-ma'lum min ad-din bi ad-dharurah), tidak diterima alasan seseorang itu kerana jahilnya seperti perkara2 i'tiqad dan perkara2 fardhu yg tertentu. Terdapat masalah2 terperinci daripada cabang ilmu yang diringankan ke atas sebahagian manusia, maka inilah yg dimaafkan kerana jahilnya seseorg. Ada juga tempat yang tidak sampai ilmunya kepadanya dan di sini dimaafkan juga ia akan kejahilannya. Maka wajib ke atas ahli ilmu utk bekerja menyebarkan ilmu sehingga berkurangnya nisbah manusia yang jahil dalam perkara agama.

Berkata Syeikh bin Baaz:
Terdapat perincian utk mendakwa seseorang itu jahil dan dimaafkan ke atasnya, dan tidaklah setiap org itu boleh memberikan alasan bahawa dia tidak tahu. Perkara yg didtgkan oleh Islam itu telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad kepada manusia, diterangkannya Kitabullah dan disebarkannyakepada seluruh Muslimin, maka tidak dpat diterima alasan bahawa dia jahil, khususnya apa yang berkaitan dgn aqidah dan usuluddin. Allah Ta'ala telah mengutuskan NabiNya utk menjelaskan dan mensyarahkan urusan agama, dan telah disampaikan penyampaian yg nyata dan dijelaskan kebenaran agamanya dan disyarah pula setiap perkara. Ada perkara2 yang tidak diterima alasan jahil itu dalam perkara2 yg wajib diketahui seperti mengatakan boleh mensekutukan Allah, mengatakan bhw solat, puasa, zakat, haji (bg yg mampu) itu tidak wajib. Maka ini semua adalah tidak diterima sama sekali kerana perkara2 ini adalah sesuatu yang wajib diketahui di kalangan muslimin.

Begitu juga perkara2 yg tidak dapat diterima dakwaan jahil ini seperti mendakwa tidak tahu mengenai org2 yg syirik di sisi kubur, atau penyembah2 yg menyeru org2 mati utk memohon bantuan, disediakan korban dan nazar utknya, atau korban sbg sembahan kepada bintang, pokok dan batu, atau meminta tolong dari org yg mati, atau jin, atau malaikat atau nabi.. Semua perkara ini adalah sesuatu yg telah sedia maklum iaitu syirik akbar.

Dosa syirik dan wajibnya ikhlas dalam ibadah hanya utk Allah telah dijelaskan oleh Allah dalam al-Quran, antaranya:

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia.." (Al-Isra':23)

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.." (Al-Bayyinah: 5)

Dan byk lg ayat..

Adapaun masalah yg diringankan adalah masalah2 mu'amalat, beberapa masalah mengenai solat, puasa dan dimaafkan org2 yg jahil mengenainya, sebagaimana Nabi Muhammad telah memaafkan mereka yg berihram dalam pakaian yg dilumuri wangian. Nabi bersabda:

"Tanggalkanlah pakaian itu darimu dan basuhlah ia dari wangian ini dan lakukanlah umrah kamu sepertimana kamu lakukan dalam hajimu."

Dia tidak disuruh membayar fidyah kerana jahilnya dia mengenai hal itu. Beginilah beberapa perkara yg diringankan dan diajarkan pd mereka yg tidak tahu.

Adapun perkara usul dalam aqidah, rukun2 Islam dan perkara2 yg jelas haramnya, tidak dimaafkan seseorg itu jika dia tidak mengetahui. Cthnya: "Saya tidak tahu zina itu haram", "Saya tidak tahu menderhaka kpd ibubapa itu haram", "Saya tidak tahu liwat itu haram", maka ini tidaklah dimaafkan kerana alasan jahil kerana perkara2 ini adalah sesuatu yg dimaklumi oleh Muslimin.

Tetapi sekiranya dia tinggal di tempat yg jauh dari Islam atau tiadanya di sekitar mereka org2 Islam, maka itu diterima alasan yg mengatakan mereka ini jahil. Dan sekiranya mereka mati, maka urusan mereka diserahkan kpd Allah.

Wajib ke atas ahli ilmu di setiap tempat utk menyebarkan perkara ini kepada manusia dan tidak tertinggal lagi org2 awam yg memberikan alasan. Dan sehingga mereka meninggalkan pergantungan kpd org yg telah mati dan memohon pertolongan darinya samada di Mesir, Syam, Iraq, di sisi kubur Nabi di Madinah mahupun di Mekah dan sehingga sedarlah sekalian manusia. Ulama' yg mendiamkan diri telah menyebabkan kecelakaan dan kejahilan org awam.
Menjadi kewajipan para ulama' utk menyampaikan agama Allah dan mengajar mereka utk mentauhidkan Allah. Begitu juga dgn negara2 Islam dan kawasan minoritinya penduduknya Muslim, hendaklah ahli ilmu itu mengajarkan tauhid dan memberikan amaran dan peringatan akan dosa syirik.

Sumber:
http://www.islamonline.net/fatwa/arabic/FatwaDisplay.asp?hFatwaID=74019

Read more!

Tuesday, February 3, 2009

The Attitude of the Scholars Towards Philosophy

By: Dr. Umar Al-ashqar
Taken from Belief in Allah (Islamic Creed Series Vol. 1), pp. 81-84.
Credit: Multaqa Ahl al-Hadeeth

Muslim scholars resisted the trend towards mixing matters of 'aqeedah - belief - with philosophy and 'ilm al-kalaam, which was started by those who were known as the "philosophers of Islam," such as Ibn Seena (Avicenna), and they fought those who were influenced by these philosophies.

The great scholars were of two types: one group was composed of those who noted the danger of this idea from the start and resisted this trend from the outset, such as Imam Ahmad and Imam ash-Shaafa'i (may Allah have mercy on him). Shaafa'i said: "My ruling concerning the scholars of 'ilm al-kalaam is that they should be beaten with palm-branches and shoes, and paraded before the tribes and clans, and it should be announced that this is the punishment of those who forsake the Qur'an and Sunnah and turn to 'ilm alkalaam. "

The other group is composed of scholars who followed in the footsteps of the philosophers and were exhausted by their methods, but they did not realize what was happening until the sunset of their years, when they were filled with regret at the time when it was too late. They were left with nothing but grief and sorrow, and could do no more than ask Allah for forgiveness and warn those who came after them against following the mistaken path that they trod.

Among this group was Muhammad ibn Umar ar-Raazi, who said in his book Aqsaam al-Ladhdhaat: 5O

"The most that reason can achieve is a dead end, and the ultimate result of people's striving is misguidance.

Our souls are alienated in our bodies, and all that we get from this world is harm and annoyance.

We have not gained anything from our lifelong search apart from collection of what the philosophers said.

How often have we seen men and nations, but they have all vanished quickly and disappeared.

How many mountains have men climbed, but the men have gone and the mountains remain."

Ar-Raazi said:

"I examined the various kalaami and philosophical schools of thought, and I realized that they have nothing to offer to one who is sick, and they cannot quench a man's thirst (for knowledge)." He came back to the Qur'anic methodology, and gave an example of the Qur'anic methodology concerning the Divine attributes: "I saw the best way is the way of the Qur'an. Read where it confirms the attributes of Allah:


~The Most Gracious [Allah] rose over [Istawaa] the [Mighty] Throne [in a manner that suits His Majesty].' (Qur 'an 20: 5)
~...To Him ascend [all] the goodly words...~ (Qur'an 35: 10)
And read where it denies things with regard to His attributes:
~...There is nothing like Him...~ (Qur'an 42: 11)
~...But they will never compass anything of His Knowledge.~ (Qur'an 20: 110)."

Then he said: "Whoever goes through the same experience as I have will know what I know." 51

Ash-Shahrastaani said the same thing, noting that after spending a long time studying with the philosophers and scholars of 'ilm al-kalaam, he found nothing but confusion and regret, as he says: 52

"All my life, I went around all the schools of philosophy, studying all of those schools. And I never saw anything but people resting their chins on their hands or gnashing their teeth in regret."

Al-Juwayni, one of the most prominent students of Islamic philosophy ('ilm al-kalaam), warned against studying this: "0' my friends, do not study 'ilm al-kalaam. Had I known what 'ilm al-kalaam would do to me, I would not have studied it."53

When he was dying, he said in regret and sorrow: "I threw myself into a vast ocean, and forsook the people of Islam and their knowledge. I indulged in that which they had warned me against, and now if Allah does not shower me with His mercy, then woe to Ibn al-Juwayni. 'Here I am, dying on the 'aqeedah of my mother,' or he said, 'on the 'aqeedah of old women (i.e., simple 'aqeedah).'"

Abu Haamid al-Ghazaali (may Allah have mercy on him) was one of those who spent a long time examining and studying 'ilm al-kalaam, moving from one group to another, until at the end of his life he was hesitant and confused about philosophical matters. He wrote a book, entitled Iljaam al- Awaam 'an 'Ilm al-Kalaam (Preventing the masses from studying 'Ilm al-Kalaam - Islamic philosophy i.e., Scholasticism). He regarded it as haraam to study philosophy except in certain circumstances: "The truth is that 'ilm al-kalaam is haraam except for two types of people. "

At the end of his life, he turned away from the study of 'ilm al-kalaam and turned to the ahaadeeth of the Messenger, and he died with a copy of Saheeh al-Bukhari on his chest.

Abu'l-Hasan al-Ash'ari grew up as a Mu'tazili, and remained such for forty years, then he turned his back on that and stated clearly that the Mu'tazilah were misguided, and he refuted them in unequivocal terms. 54

Later there emerged a group, which followed the correct, methodology, but they studied the work of the philosophers in order to know its weak points and refute them according to the Qur'anic methodology. They fought them with their own weapon, pointing out what was wrong with it. The leader and standard-bearer of this group was Shaykh ai-Islam Ibn Taymiyah (may Allah have mercy on him).


50 Ibn al-Qayyim, As-Sawaa'iq al-Mursalah, Pp. 7; Ar-Raazi, I'tiqaadaat firaq Muslimeen, Pp. 23
51 Shaykh ai-Islam Ibn Taymiyah, Al-Fatwa al-lfamawiyah al-Kubra, Pp. 7.
52 Ash-Shahrastaani, Nihaayat al-Iqdaam fi '11m al-Kalaam, Pp. 3.
53 Majmoo' al-Fataawa Shaykh ai-Islam lbn Taymiyah; see Al-Fatwa allfamawiyah al-Kubra, Pp. 7.
54 See our book, Mu'taqad al-Imam Abi'l-Hasan al-Ash'ari wa Manhajuhu
Read more!

Wednesday, December 24, 2008

Hukum Mengucapkan Merry Christmas


Penulis : Kapten Hafiz Firdaus
Sumber : http://www.hafizfirdaus.com/

Apabila penulis menaip “Why do we celebrate Christmas” di enjin carian internet www.google.com, hasil penemuan pertama yang dikemukakan menyebut:

Why do we celebrate Christmas? It is Jesus' birthday! His mommy was Mary and His earthy Father was Joseph. His real Father is God and Jesus was God's gift to all of us!

Christmas is the celebration of the birth of Jesus. Christians decided to celebrate this day many years after He was born. December 25 was picked as this day, even though it probably is not the exact day He was born. That is not as important as the reason we celebrate Christmas. Jesus is the reason for the season. The season is not just to receive gifts, get time off from school or eat a lot of good stuff. Remember that Jesus was born for us...to take away our sins...so that we can be forgiven of the bad things we do forever. This is the greatest gift of all! [www.godschildrenscorner.com]


Jelas Christmas Day adalah sambutan bersempena dua perkara, pertama: Jesus sebagai anak Allah dan kedua: pengorbanan Jesus oleh Allah sendiri demi menghapuskan dosa-dosa manusia. Adalah memadai dalam artikel ini kita memberi tumpuan kepada yang pertama sahaja, iaitu Jesus sebagai anak Allah.

Apakah pandangan Islam tentang dakwaan Allah memiliki anak? Jawapannya boleh diperolehi secara jelas daripada al-Qur’an.

Pertama, Allah adalah Tuhan yang bebas daripada diperanakkan atau memiliki anak. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

Katakanlah: “(Tuhanku) ialah Allah Yang Satu, Allah Yang menjadi tumpuan sekalian makhluk untuk memohon sebarang hajat, Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan, Dan tidak ada sesiapapun yang serupa dengan-Nya".

[al-Ikhlas 112:1-4]

Kedua, mengatakan Allah memiliki anak adalah satu kesalahan yang amat berat:

Dan mereka berkata: “(Allah) Ar-Rahman, mempunyai anak.”

Demi sesungguhnya, kamu telah melakukan satu perkara yang besar salahnya! Langit nyaris-nyaris pecah disebabkan (anggapan mereka) yang demikian dan bumi pula nyaris-nyaris terbelah serta gunung-ganang pun nyaris-nyaris runtuh ranap kerana mereka mendakwa mengatakan: (Allah) Ar-Rahman mempunyai anak. Padahal tiadalah layak bagi (Allah) Ar-Rahman, bahawa Dia mempunyai anak. [Maryam 19:88-92]

Ketiga, dakwaan Allah memiliki anak adalah sebahagian daripada kepercayaan Trinity yang dipegang oleh orang-orang Kristian. Kepercayaan Trinity bermaksud Allah adalah tiga sekalipun satu, iaitu (1) The Father, (2) The Son and (3) The Holy Spirit. Ini adalah satu kesalahan yang telah dinyatakan oleh al-Qur’an sejak lebih 1400 tahun yang lalu:

Wahai Ahli kitab (Yahudi dan Nasrani)! Janganlah kamu melampaui batas dalam perkara agama kamu dan janganlah kamu mengatakan sesuatu terhadap Allah melainkan yang benar.

Sesungguhnya al-Masih Isa ibni Maryam (Jesus) hanya seorang pesuruh Allah dan Kalimah Allah yang telah disampaikan-Nya kepada Maryam dan (merupakan tiupan) roh daripada-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga (Trinity)".

Berhentilah (daripada mengatakan yang demikian) supaya menjadi kebaikan bagi kamu. Hanyasanya Allah ialah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah daripada mempunyai anak. Bagi Allah jualah segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dan cukuplah menjadi Pengawal (Yang Mentadbirkan sekalian makhlukNya). [an-Nisa’ 4:171]

Keempat, apabila orang-orang Kristian enggan berhenti daripada kepercayaan Trinity mereka sebagaimana yang dilarang oleh ayat 171 surah an-Nisa’ di atas, Allah Subhanahu wa Ta‘ala menghukum mereka kafir:

Demi sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Bahawasanya Allah ialah salah satu dari tiga tuhan.” Padahal tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Tuhan yang Maha Esa. Dan jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, sudah tentu orang-orang yang kafir dari antara mereka akan dikenakan azab seksa yang tidak terperi sakitnya. [al-Maidah 5:73]

Ayat-ayat al-Qur’an di atas tidaklah bersifat samar-samar dalam menyatakan kesalahan mendakwa Allah memiliki anak. Pengkhususan diberikan kepada kepercayaan agama Kristian yang mendakwa Jesus adalah anak Allah. Jesus sebagai anak Allah adalah salah satu unsur Trinity. Berpegang kepada kepercayaan sebegini adalah satu kekafiran yang tidak diragukan lagi.

Alhamdulillah umat Islam bebas daripada kepercayaan Allah memiliki anak dan Trinity. Akan tetapi umat Islam tidak sahaja dituntut untuk menjauhi kepercayaan sedemikian tetapi juga dilarang daripada membantu atau menyokongnya. Ini kerana di dalam Islam, apabila sesuatu perkara itu adalah salah maka kita bukan sahaja dituntut untuk menjauhi kesalahan tersebut tetapi juga dilarang daripada membantu dan menyokong kesalahan itu. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

Dan hendaklah kamu bertolong-tolongan untuk membuat kebajikan dan bertaqwa, dan janganlah kamu bertolong-tolongan pada melakukan dosa (maksiat) dan pencerobohan. [al-Maidah 5:02]

Termasuk dalam keumuman perintah “…bertolong-tolongan untuk membuat kebajikan…” ialah membetulkan kepercayaan orang-orang Kristian. Hal ini kita lakukan bukan dengan menzalimi mereka tetapi dengan dakwah dan dialog dengan cara yang terbaik, yakni dengan ilmu dan hikmah. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

Dan janganlah kamu berbahas dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara yang lebih baik, melainkan kepada orang-orang yang berlaku zalim di antara mereka. Dan katakanlah (kepada mereka yang zalim): “Kami beriman kepada (Al-Quran) yang diturunkan kepada kami dan kepada (Taurat dan Injil) yang diturunkan kepada kamu; dan Tuhan kami, juga Tuhan kamu, adalah Satu. Dan kepada-Nyalah kami patuh dengan berserah diri." [al-Ankabut 29:46]

Termasuk dalam keumuman perintah “…janganlah kamu bertolong-tolongan pada melakukan dosa…” ialah jangan kita membantu dan menyokong kepercayaan orang-orang Kristian. Di antaranya ialah jangan diucapkan: “Merry Christmas” kerana dengan ucapan ini atau apa-apa yang seumpama, kita mengiktiraf kepercayaan mereka dan memberi ucapan tahniah untuk mereka meneruskan kepercayaan tersebut. Ini dilarang dan amat bertentangan dengan apa yang sebenarnya dituntut ke atas kita.

Adapun tindakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang menghormati dan berbuat baik kepada sebahagian kaum Ahli Kitab, yakni orang-orang Yahudi dan Nasrani, ia adalah tindakan yang menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

Allah tidak melarang kamu daripada berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu kerana agama (kamu) dan tidak mengeluarkan kamu dari kampung halaman kamu. Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berlaku adil. [al-Mumtahanah 60:08]

Akan tetapi menghormati dan berbuat baik kepada orang bukan Islam, dalam kes ini orang-orang Kristian, tidaklah sampai ke tahap membenarkan dan membantu kepercayaan mereka yang syirik kepada Allah. Sebagai contoh, apabila memerintahkan anak-anak berbuat baik kepada ibubapa, Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

Dan jika mereka berdua (ibubapa) mendesak kamu supaya mempersekutukan dengan-Ku sesuatu yang engkau tidak mengetahui sungguh adanya, maka janganlah engkau taat kepada mereka. Dan bergaullah dengan mereka di dunia dengan cara yang baik. [Luqman 31:15]

Jelas bahawa berbuat baik tersebut adalah dengan syarat ia tidak melibatkan apa-apa yang bersifat syirik kepada Allah. Jika melibatkan syirik maka tidak ada ketaatan. Namun sekalipun dalam suasana syirik tersebut, anak-anak tetap dituntut bergaul dengan ibubapa mereka dengan cara yang baik.

Justeru kita memang dituntut berbuat baik kepada orang-orang bukan Islam. Akan tetapi tuntutan ini tidaklah ke tahap kita melakukan syirik kepada Allah atau kita mengiktiraf dan membantu orang bukan Islam melakukan syirik kepada Allah. Hal ini perlu dibezakan dengan baik. Perhatikan bahawa sekalipun Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menghormati dan berbuat baik kepada sebahagian kaum Ahli Kitab, baginda tidak sekali-kali memberi ucapan tahniah dan menyertai perayaan keagamaan mereka.

Timbul persoalan seterusnya, bagaimana seharusnya sikap kita kepada majikan, guru, rakan-rakan, jiran-jiran dan ahli keluarga kita yang menyambut Christmas Day? Untuk menjawab persoalan ini, penulis ingin mengajak para pembaca sekalian melakukan satu anjakan paradigma. Sedar atau tidak, kita umat Islam apabila menghadapi sesuatu persoalan seringkali akan cuba mengubahsuai agama Islam supaya selari dengan persoalan tersebut. Kenapa tidak dilakukan yang sebaliknya, iaitu mengubahsuai persoalan supaya selari dengan agama Islam? Sudah sampai masanya Islam dan umatnya menjadi pemimpin, bukan asyik dipimpin.

Dalam kes ini, sikap kita terhadap orang-orang Kristian yang berkaitan ialah menerangkan kepada mereka bahawa kita menghormati kepercayaan yang mereka pilih. Akan tetapi tidaklah bererti kita mengiktiraf dan menyertai perayaan keagamaan mereka kerana ia bertentangan dengan prinsip agama kita sendiri. Melalui penerangan yang berhikmah dan ilmiah, pasti mudah untuk orang-orang Kristian menerimanya. Malah mungkin ia dapat membuka ruang dakwah untuk kita membetulkan kepercayaan Trinity yang mereka pegangi.

Sudah tentu bahawa penjelasan dalam dua perenggan terakhir di atas adalah berdasarkan kemampuan setiap individu. Jika seseorang tersepit dalam suasana yang menekan, maka dibolehkan baginya mengucapkan Merry Christmas sebagai pilihan yang terakhir. Allah sebagai tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Pengampun mengetahui apabila seseorang hambanya terpaksa melakukan satu perkara yang tidak diingininya.

Perkara lain yang perlu digariskan adalah, tidak mengucapkan Merry Christmas tidak bererti akan menyebabkan perpecahan di kalangan rakyat Malaysia. Ini kerana perpaduan rakyat bukan bererti persatuan agama tetapi saling menghormati ajaran agama masing-masing.[1]

Menghormati ajaran agama masing-masing bukanlah bermaksud kita umat Islam perlu mengalah kepada orang Kristian dengan mengucapkan Merry Christmas kepada mereka, tetapi dengan orang Kristian sendiri yang mengalah kepada umat Islam dengan menghormati kenapa ajaran Islam melarang umatnya daripada mengucapkan Merry Christmas.
Read more!

Monday, November 17, 2008

Mengapa Saya Keluar Dari Syiah?

Judul Asal : Lillahi Tsumma Li at-Tharikh (Untuk Allah Kemudian Untuk Sejarah)
Judul Buku : Mengapa Saya Keluar Dari Syiah?
Penulis : Sayid Husain al-Musawi
Penerbit : CV. Pustaka al-Kautsar, Jakarta Timur,August 2002
Pengedar : Pustaka Indonesia, Wisma Yakin, Kuala Lumpur.

Insya-Allah buku ini amat berguna sekali untuk mereka
yang telah terpengaruh dengan Mazhab Ahlul Bait /
Syi'ah di Malaysia ini dan juga untuk kita yang
mungkin akan didatangi oleh da'i-da'i Syi'ah. Syaikh
Mamduh Farhan al-Buhairi seoarang pakar tentang Aliran
syi'ah juga berkata sebagai kata Pengantar untuk buku
ini, "Ini (buku Lillahi Tsumma Li at-Tharikh) saya
kirimkan kepada orang-orang yang masih berbaik sangka kepada
Syi'ah dan yang menuntut agar menggauli mereka dengan
baik dan lemah lembut, akibat kebodohan mereka
terhadap al-Quraan dan sunnah Nabi SAW. Semoga mereka
diberi petunjuk oleh Allah dan mempelajari Islam lebih
dalam."

Sinopsis buku:


Peristiwa di mana Ulama'-Ulama' besar Syi'ah keluar
dari aliran sesat ini memang sudah tidak asing lagi
malah ada di antara mereka yang disembelih dan
dicincang mayat mereka setelah mereka secara terbuka
bertaubat dari fahaman sesat lagi merbahaya ini.
Antara tokoh-tokoh Syi'ah yang bertaubat adalah
Ayatullah Uzhma Imam Sayid Abul Hassan al-Asfahani,
Sayid Ahmad al-Kasrawi, al-Allamah Sayid Musa al-Musawi,
Sayid Ahmad al-Katib, Abu al-Fadhl al-Burqui dan
lain-lain lagi.


Buku yang sedang diulas ini adalah
berkenaan dengan Sayid Hussain al-Musawi seorang
mujtahid dari alirang Syiah yang kemudiannya
mengumumkan secara terbuka bahawa beliau bertaubat
dari aliran sesat ar-Rafidhah ini dan beliau
mendetailkan bukti-bukti kesesatan Syi'ah yang diambil dari
kitab-kitab muktabar mereka sendiri.


Sayid Hussain al-Musawi dilahirkan di Karbala dan
mendapat pendidikan di kota ilmu (hauzah) di Najaf.
Beliau telah lulus dengan cemerlang di situ dan
dianugerahkan derajat Ijtihad oleh tokoh besar Ulama'
Syi'ah iaitu Sayid Muhammad Hussain Ali Kasyif
al-Ghita.

Selama masa beliau mendalami kitab-kitab Syi'ah ketika
pengajian beliau selalu menjadi bingung dengan
percanggahan yang begitu banyak terdapat dalam
kitab-kitab muktabar ajaran Syi'ah. Tapi beliau cuba
menyedapkan hati beliau dengan menyatakan kepada diri
beliau sendiri sebagai seorang yang buruk pemahaman
dan sedikit ilmu. Pernah beliau melontarkan keraguan
beliau kepada salah seorang tokoh di Hauzah dan tokoh
itu hanya menjawab "jauhkanlah keraguan itu dari
dirimu, kamu adalah pengikut Ahlul Bait AS, sedangkan ahlul
bait menerimanya (agama syiah) dari Muhammad SAW, dan
Muhammad SAW menerimanya dari Allah SWT." Beliau
merasa tenang sebentar namun perasaan berkecamuk
antara kebenaran dan kebathilan syiah sentiasa bermain
di jiwa beliau. Semakin mendalam pengajian beliau
semakin banyak permasalahan timbul dan semakin
bergelora perang batin dalam jiwa beliau. Setelah
tamat pengajian di Hauzah perang batin dalam jiwa
beliau berterusan.
Setelah lama merenung keadaan ini maka beliau
mengambil keputusan untuk melakukan kajian yang
komprehensif dan mengkaji ulang seluruh materi
pelajaran yang pernah beliau dapatkan. Beliau membaca
sebanyak mungkin referensi pegangan serta kitab-kitab
Syi'ah. Segala kebingungan atau percanggahan beliau
tuliskan dalam lembaran-lembaran kertas dan beliau
simpan semoga pada suatu hari Allah menetapkan satu
keputusan. Peristiwa al-Allamah Sayid Musa al-Musawi
dan Sayid Ahmad al-Katib dua tokoh besar Syi'ah yang
bertaubat dan kembali kepada Ahlus Sunnah Wal Jamaah
seolah-olah menjadi petunjuk bagi beliau bahawa
masanya juga sudah tiba untuk beliau mengistihar
keluar dari fahaman yang sesat ini. Beliau berpendapat
kini giliran beliau sudah tiba untuk menyatakan
kebenaran untuk menyelamatkan rakan-rakan beliau yang
telah tertipu. Bagi beliau sebagai seorang ulama adalah
tanggungjawab beliau untuk menjelaskan kebenaran
walaupun ianya sungguh pahit untuk ditelan.

Maka Sayid Hussain al-Musawi pun mengarang sebuah buku
yang membongkar kesesatan-kesesatan Syi'ah. Yang
menariknya tentang buku ini adalah beliau menggunakan
sumber Syi'ah sendiri untuk membongkarkan konspirasi
musuh-musih Islaam untuk melemahkan Islaam dari dalam
seperti musuh dalam selimut. Antara topik menarik yang
beliau kupaskan adalah seperti berikut :

a) Abdullah Ibnu Saba' satu individu fiktif/rekaan
yang dicipta oleh Ahlu Sunnah Wal Jamaah dalam rangka
untuk memburukkan Syi'ah. benarkah begitu? Apa kata
sumber Syi'ah sendiri mengenai Abdullah Ibnu Saba.

b) Kata-kata kecaman dari kalangan Ahlul Bait sendiri
terhadap Syi'ah. Beliau telah menurunkan kata-kata
kecaman dari Saidina Ali RA, Saidatina Fathimah RA,
Al-Hassan RA, al-Hussain RA dan Imam-Imam dari
kalangan Ahlul Bait terhadap Syi'ah. Benarkah Syi'ah
ini pembela Ahlul Bayt atau mereka sebenarnya
pemusnah/penghina Ahlul Bait? Kita lihat sendiri
Riwayat-riwayat syi'ah yang menghina Rasulullah SAW
dan Ahlul Baitnya. Apakah kaitan Syi'ah di Kufah
dengan tragedi pembunuhan Saidina Hussain RA?
Kesemuanya riwayat-riwayat tentang hal ini di ambil
dari sumber syi'ah sendiri!

c) Sayid Hussain al-Musawi juga membongkarkan
bagaimana Syi'ah menghalalkan perzinaan dengan
menggunakan Nikah Mut'ah, bagaimana perempuan
diperlakukan sebagai objek memuaskan hawa nafsu
atas nama Mut'ah. Sungguh menjijikan sekali.
Yang paling menggemparkan kisah Nikah Mut'ah
Ayatollah Khomeini al-Musawi dengan kanak-kanak
bawah umur dan apakah pandangan Ulama' syi'ah
akan hal ini? Bagaimana pula melakukan adengan
Homoseks dengan kanak-kanak lelaki yang masih belum
tumbuh janggutnya dan kumisnya. Beliau juga membawa
Riwayat dari Amirul Mukminin Saidina Ali RA yang
menyatakan bahawa Mut'ah telah diharamkan pada hari
Khaibar. Semua pendedahan ini diambil dari sumber
Syi'ah sendiri!

d) Bagaimana Harta Khumus (1/5 bahagian untuk Ahlul
Bayt) telah dipergunakan untuk kemewahan Ulama'-Ulama
Syi'ah.

e) Apakah pandangan mereka tentang al-Quraan? Adakah
al-Quraan yang ada pada kita hari ini lengkap?
Wujudkah al-Quraan yg lain selain dari apa yang kita baca hari
ini?

f) Apakah pandangan Syi'ah terhadap Ahlus Sunnah Wal
Jamaah. Siapakah yang berkata kalimah ini, "Mereka
(ASWJ) adalah orang-orang kafir yang najis berdasarkan
Ijma' ulama' Syi'ah Imamiyah. Mereka lebih jahat dari
Yahudi dan Nasrani."?

g) Pengaruh Yahudi, Majusi dan lain-lain dalam Syi'ah

h) al-Qaim (Imam Mahdi) menurut Riwayat Syi'ah yang
menyerupai watak Dajjal dan banyak lagi
perkara-perkara yang menggemparkan. Kesemuanya diambil
dari sumber rujukan Syi'ah sendiri.

Insya-Allah buku ini amat berguna sekali untuk mereka
yang telah terpengaruh dengan Mazhab Ahlul Bait /
Syi'ah di Malaysia ini dan juga untuk kita yang
mungkin akan didatangi oleh da'i-da'i Syi'ah. Syaikh
Mamduh Farhan al-Buhairi seoarang pakar tentang Aliran
syi'ah juga berkata sebagai kata Pengantar untuk buku
ini, "Ini (buku Lillahi Tsumma Li at-Tharikh) saya
kirimkan kepada orang-orang yang masih berbaik sangka kepada
Syi'ah dan yang menuntut agar menggauli mereka dengan
baik dan lemah lembut, akibat kebodohan mereka
terhadap al-Quraan dan sunnah Nabi SAW. Semoga mereka
diberi petunjuk oleh Allah dan mempelajari Islam lebih
dalam."

Selamat Membaca.

ABU IQBAL

www.hafizfirdaus.com
.
Read more!

Saturday, November 1, 2008

Where is ALLAH?


Allaah tells us in Qur'aan
That to us He is near
What this means is so important
I'll explain it here


Allaah, we should know is He
Who's high above the sky
High above the heavens too
Allaah is up high!

So when we say 'Allaah is near'
What it means is clear
Allaah knows and sees all things
And all things He can hear.

That is what His nearness means
Not physically with you!
He is near because He knows
Everything you do.

So Allaah is not everywhere!
Like I've told you so
High above the sky is Allaah
This we all now know


(poems4kids;www.islam4kids.com)

Jika ditanya perihal di manakah Allah? Katakanlah: “Allah itu di langit.”

Ini adalah berdasarkan hadis sahih berikut...

Ketika Mu’awiyah Bin al-Hakam as-Sulamy ingin memerdekakan hambanya yang bernama Jariyyah, beliau membawanya kepada Rasulullah s.a.w.;
Rasulullah bertanya kepada hamba tersebut: “Di manakah Allah (aina Allah)?” Jawab hamba itu: “Allah di langit (fis samaa’).” Baginda Rasulullah bertanya lagi: “Siapakah aku?” Jawab hamba itu lagi: “Engkau adalah Rasulullah.” Dan kemudian baginda Rasulullah bersabda, “Merdekakanlah dia, kerana dia seorang mukminah (wanita yang sedia beriman). (Hadis Diriwayatkan oleh Jema’ah ahli Hadis, antaranya Imam Malik, Imam Muslim, Abu Daud, ad-Darimi, an-Nasai’e)

jom download huraian selanjutnya di sini:
artikel 'di mana Allah' & e-book akidah salaf:
.


Read more!

Thursday, October 30, 2008

TAWASUL DENGAN PERANTARA PARA NABI DAN ORANG-ORANG SHALIH



Oleh
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta


Pertanyaan.
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Bolehkan seorang muslim bertawasul kepada Allah dengan (perantara) para nabi dan orang-orang shalih ? Saya telah mendengar pendapat sebagian ulama bahwa bertawasul dengan (perantaraan) para wali tidak apa-apa karena do'a (ketika) bertawassul itu sebenarnya ditujukkan kepada Allah. Akan tetapi, saya mendengar ulama yang lain justru berpendapat sebaliknya. Apa sesungguhnya hukum syariat dalam permasalahan ini ?

Jawapan
Wali Allah adalah siapa saja yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Taâala dan bertaqwa kepadaNya dengan mengerjakan segala yang diperintahkan oleh Nya Subhanahu wa Ta'ala dan meninggalkan segala yang dilarangNya. Pemimpin mereka adalah para nabi dan rasul 'alaihimus salam. Allah berfirman.

"Artinya : Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa". [Yunus : 62-63]

Tawassul kepada Allah dengan (perantaraan) para waliNya ada beberapa macam.

Pertama.
Seseorang memohon kepada wali yang masih hidup agar mendoakannya supaya mendapatkan kelapangan rezeki, kesembuhan dari penyakit, hidayah dan taufiq, atau (permintaan-permintaan) lainnya. Tawassul yang seperti ini dibolehkan. Termasuk dalam tawassul ini adalah permintaan sebagian sahabat kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam agar beristsiqa (meminta hujan) ketika hujan lama tidak turun kepada mereka. Akhirnya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memohon kepada Allah agar menurunkan hujan, dan Allah mengabulkan doa beliau itu dengan menurunkan hujan kepada mereka.

Begitu pula, ketika para sahabat Radhiyallahu 'anhum beristisqa dengan perantaraan Abbas Radhiyallahu 'anhu pada masa kekhalifahan Umar Radhiyallahu 'anhu. Mereka meminta kepadanya agar berdoa kepada Allah supaya menurunkan hujan. Abbas pun lalu berdoa kepada Allah dan diamini oleh para sahabat Radhiyallahu 'anhum yang lain. Dan kisah-kisah lainnya yang terjadi pada masa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan setelahnya berupa permintaan seorang muslim kepada saudaranya sesame muslim agar berdoa kepada Allah untuknya supaya mendatangkan manfaat atau menghilangkan bahaya.

Kedua.
Seseorang menyeru Allah bertawassul kepadaNya dengan (perantaraan) rasa cinta dan ketaatannya kepada nabiNya, dan dengan rasa cintanya kepada para wali Allah dengan berkata, 'Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadaMu agar Engkau memberiku ini (menyebutkan hajatnya)'. Tawassul yang seperti ini boleh karena merupakan tawassul dari seorang hamba kepada rabbnya dengan (perantaraan) amal-amal shalihnya. Termasuk tawassul jenis ini adalah kisah yang shahih tentang tawassul tiga orang, yang terjebak dalam sebuah goa, dengan amal-amal shalih mereka. [Hadits Riwayat Imam Ahmad II/116. Bukhari III/51,69. IV/147. VII/69. dan Muslim dengan Syarah Nawawi XVII/55]

Ketiga.
Seseorang meminta kepada Allah dengan (perantaraan) kedudukan para nabi atau kedudukan seorang wali dari wali-wali Allah dengan berkata -misalnya- 'Ya Allah, sesunguhnya aku meminta kepadaMu dengan kedudukan nabiMu atau dengan kedudukan Husain'. Tawassul yang seperti ini tidak boleh karena kedudukan wali-wali Allah dan lebih khusus lagai kekasih kita Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, sekalipun agung di sisi Allah, bukanlah sebab yang disyariatkan dan bukan pula suatu yang lumrah bagi terkabulnya sebuah doa.

Karena itulah ketika mengalami musim kemarau, para sahabat Radhiayallahu 'anhum berpaling dari tawassul dengan kedudukan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika berdoa meminat hujan dan lebih memilih ber-tawassul dengan doa Abbas Radhiyallahu 'anhu (yang masih hidup), padahal kedudukan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berada diatas kedudukan orang selain beliau. Demikian pula, tidak diketahui bahwa para sahabat Radhiyallahu 'anhum ada yang ber-tawassul dengan (perantraan) Nabi setelah beliau wafat, sementara mereka adalah generasi yang paling baik, manusia yang paling mengetahui hak-hak Nabi Shallalalhu 'alaihi wa sallam, dan yang paling cinta kepada beliau.

Keempat.
Seorang hamba meminta hajatnya kepada Allah dengan bersumpah (atas nama) wali atau nabiNya atau dengan hak nabi atau wali dengan mengatakan, 'Ya Allah, sesungguhnya aku meminta ini (menyebutkan hajatnya) dengan (perantaraan) waliMu si-Fulan atau dengan hak nabiMu Fulan', maka yang seperti ini tidak boleh.

Sesungguhnya bersumpah dengan makhluk terhadap makhluk adalah terlarang, dan yang demikian terhadap Allah Sang Khaliq adalah lebih keras lagi larangannya. Tidak ada hak bagi makhluk terhadap Sang Khaliq (pencipta) hanya semata-mata karena ketaatannya kepadaNya Subahanhu wa Ta'ala sehingga dengan itu dia boleh bersumpah dengan para nabi dan wali kepada Allah atau ber-tawassul dengan mereka. Inilah yang ditampakkan oleh dalil-dalil, dan dengannya aqidah Islamiyah terjaga dan pintu-pintu kesyirikan tertutup.

[Fatawa Li Al- Lajnah Ad-Da'imah 1/498-500, Pertanyaan ke-2 dari Fatwa no. 1328 Di susun oleh Syaikh Ahmad Abdurrazzak Ad-Duwaisy, Darul Asimah Riyadh. Di salin ulang dari Majalah Fatawa edisi 3/I/Dzulqa'dah 1423H]
Read more!

Friday, September 19, 2008

73 golongan umat Islam


“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu” [Al-Maidah :3]
Assalamualaikum wbt.

Kali ini kita akan berbincang secara ringkas mengapa umat Islam pada hari ini berpecah kepada pelbagai puak. Dan kita lihat semuanya mengaku mereka muslim,melaung2kan slogan alquran dan sunnah, dan mendakwa mereka berada di atas kebenaran.Sedangkan Islam yg dibawa oleh Rasulullah saw dan para sahabat dulu hanya 1 saja.

Kita pelik, kenapa Kahar atau mirza ghulam ahmad yg mengaku jadi nabi tu pun ada jugak orang kita yg percaya? Mengapa ada banyak puak ajaran sesat? Mengapa ada muslim yg mengaku dirinya imam mahdi? Mengapa ada muslim yg mendakwa dirinya melangkah ke dalam alam lain dan bertemu Nabi saw secara sedar? Mengapa orang2 begini masih ada pengikut? Bahkan pengikut2 mereka bukan saja terdiri dari org kampung, tetapi juga golongan professional. Mengapa begitu mudah orang kita menjadi Tipah yg asyik2 tertipu?

Jawapannya mudah saja.Sbb tak tau apa islam yg sebenar. InsyaAllah di kalangan kita takde yg terjebak dlm perkara2 begitu yg secara terang2an tidak selari dgn Islam.Tolak tepi.Kita lebih concern kenapa ada di kalangan kita yg apparently muslim yg mengamalkan Islam,tetapi mempunyai prinsip2 yg berbeza.

Rasulullah saw bersabda:"Bangsa Yahudi telah terpecah-belah menjadi 71 golongan. Dan umat Nashara telah tercerai-berai menjadi 72 golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya berada di neraka, kecuali satu (golongan)," kemudian ada yang bertanya: “Siapakah mereka, wahai Rasulullah,” beliau menjawab: "(Yaitu golongan) yang berada di atas jalanku sekarang ini dan para sahabatku".[Hadits shahih, diriwayatkan oleh sejumlah sahabat. Lafazh di atas riwayat dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al Ash. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (2641), al Hakim (1/129-128), Ibnu Wadhdhah dalam al Bida' (hlm. 15-16), al Ajurri dalam asy-Syari'ah (16), al Lalikai dalam Syarhu Ushulil-I'tiqad (147) dll.]

“Sesungguhnya orang yang hidup (panjang) di antara kalian akan menyaksikan perbedaan yang banyak. Maka, kewajiban kalian ialah memegangi Sunnahku dan sunnah para khulafaur-rasyidin sepeninggalku. Pegangilah dengan geraham-geraham kalian . .” [At-Tirmidzi berkata: "Hadits hasan shahih". Al Hakim berkata: "Hadis shahih tidak ada cacatnya," dan adz-Dzahabi menyepakatinya. Abu Nu'aim berkata: "Ia adalah hadits jayyid, termasuk hadits shahih dari orang-orang Syam." Lihat Jami'ul-Ulum wal-Hikam (2/109)]

“Bintang-bintang merupakan amanah bagi langit. Apabila bintang-bintang lenyap, maka tibalah perkara yang sudah ditetapkan bagi langit. Dan aku penjaga amanah di tengah sahabatku. Bila aku telah pergi, maka datanglah kepada para sahabatku apa yang dijanjikan kepada mereka. Dan sahabatku penjaga amanah di tengah umatku. Apabila para sahabatku telah pergi, maka datanglah kepada umatku perkara yang dijanjikan kepada mereka” [HR Muslim (2531). Maksudnya, seperti diungkapkan oleh al Imam an-Nawawi dalam Syarhu Shahih Muslim, (secara ringkas) selama bintang-bintang itu tetap ada, maka langit pun juga demikian. Jika bintang-bintang sudah berjatuhan pada hari Kiamat, maka langit pun terpecah dan lenyap. Hal-hal yang dijanjikan kepada para sahabat, yaitu peristiwa-peristiwa fitnah, peperangan, timbulnya gejala keluar dari agama (murtad) dari kalangan orang-orang Badui, perpecahan hati dan peristiwa lainnya yang sudah diperingatkan Nabi dengan terang-terangan. Sedangkan kejadian yang dijanjikan kepada umatnya, yaitu munculnya bid’ah (perkara-perkara baru dalam agama) dan fitnah. Lihat Syarhu Shahih Muslim]

Jelas disebutkan oleh hadis2 di atas, bahawa Rasulullah saw telah pun memberi warning kepada kita tentang apa yg akan berlaku pada hari ini.Bukan setakat warning,baginda saw juga menyampaikan pesan kepada kita supaya pegang kuat2 dengan sunnah baginda,khulafa' ar-rasyidun,dan mengikut jejak langkah para sahabat.Iaitu beragama sebagaimana mereka beragama,beraqidah sebagaimana mereka beraqidah,beramal sebagaimana mereka beramal.Inilah prinsip yg perlu kita pegang.Kerana merekalah golongan yg paling baik,paling faham dlm agama,yg berjuang meninggikan kalimah Allah,mengibarkan panji Islam dan ditarbiah secara langsung oleh Rasulullah saw.Para sahabat itulah murid2 Rasulullah saw.Jika mereka salah Rasulullah saw betulkan.Jika mereka tak tahu mereka bertanya kepada Rasulullah saw dan nabi ajarkan.Jadi sudah tentulah para salaf itu golongan yg paling faham tentang agama dan nas, dan contoh ikutan kita.Logik bukan?

Jadi,utk kita mengetahui apakah aqidah Islam yg sebenar,tidak dapat tidak kita perlu tahu apakah yg dikatakan oleh Rasulullah saw?Dan bagaimanakah golongan salaf memahaminya?Kerana mungkin mereka faham lain tetapi kita faham lain.Cthnya: Ada golongan yg menganggap alquran itu makhluk manakala golongan lain menganggap alquran bukan makhluk.Jadi,siapakah yg perlu dipercayai dan apakah yg perlu kita pegang?Jawapannya,kita perlu tengok apa yg dipegang oleh para salaf. Yaitu mereka tidak menganggap alquran itu makhluk,bukan seperti aqidah muktazilah.Maka apabila datang seorang syiah atau sesiapa saja yg mendakwa itu dan ini,lihatlah apa yg diajar oleh Rasul saw dan apa yg difahami dan diimani oleh para sahabat.Barulah kita tak pening.Ni kalau ada yg kata sahabat majoriti murtad,imam tu imam ni maksum,adakah kita nak percaya dan bertoleransi?adakah itu yg diajar oleh Rasulullah saw?Berhati2lah supaya kita tergolong dalam golongan yg 1 itu, yg dijanjikan syurga oleh Nabi saw,yg berjalan di atas jalan baginda dan para sahabat.
Read more!

Sunday, September 7, 2008

Mengapa Islam?


Assalamualaikum wbt

Posting yg lepas, kita memperkatakan tentang kewujudan Tuhan.Ya, Tuhan itu wujud.

Tetapi,pernahkah kita terfikir, bahawa adakah kita sekarang ini menganut agama yg betul?Jika kita selalu katakan,mujurlah kita dilahirkan sebagai seorang muslim yg secara automatik mewarisi Islam, bukan seperti orang yg dilahirkan kafir,maka pernahkah kita terfikir, mungkinkah it is the other way round?Bagaimana jika kita yg dilahirkan bukan di atas agama yg betul?

Pernahkah anda ada krisis aqidah seperti ini?Yg menyebabkan anda berasa ragu2 terhadap Islam?Tambah2 lagi kita berada dalam negara yg mempunyai masyarakat yg berbilang agama.Di sekitar kita, banyak agama.Semua mengaku agama merekalah yang paling betul.Semua mengaku Tuhan merekalah yg patut disembah. Dan mengapa pula ada muslim yg murtad?Adakah mereka bertemu 'hidayah'? Atau sebenarnya mereka jahil tentang hakikat sebenar Islam?

Mungkin kita tak sedar,tapi ramai yg mempunyai krisis sebegini,especially di kalangan muda-mudi. Tetapi mereka takut utk menyatakan persoalan2 yg timbul di kepala mereka, kerana pastinya akan dimarah oleh 'orang2 tua' dan dicop macam2.Akan dilempang kerana dikatakan mempertikai agama.Akan diherdik jika cuba membaca bible kawannya.Sedangkan hati mereka resah tertanya2,apakah agama yg sebenar?Benarkah apa yg aku anuti ini?Atau hanya sekadar taqlid membabi-buta?

Mereka yg ikhlas mencari Tuhan dengan menggunakan akal yg waras dan berfikir, membuang ego dan prejudis, pasti akhirnya akan berjumpa dengan Allah.

Agama Buddha,Hindu dan apa2 agama yg mempunyai unsur keberhalaan atau animisme,awal2 lagi sudah di'ruled out'.Bodohlah org2 yang menyembah objek yg dibina oleh tangan sendiri.Patung2 yg memerlukan makanan yg disediakan oleh makhluknya sendiri.Patung2 yg berbaring, bertapa, bertangan banyak, bermata sepet,berhidung mancung,berkepala gajah, dan macam2 rupa dan aksi yg lain, sudah pastilah itu bukan Tuhan. Tidakkah mereka terfikir bahawa jika benarlah agama mereka itu,maka merekalah sebenarnya pencipta tuhan mereka,bukan mereka yg dicipta oleh tuhan?Hanya org yg tak waras dan tak berfikir yg akan mengakui bahawa itu semua adalah Tuhan. Maha Suci Allah dari semua itu.

Patutkah mereka sekutukan Allah dengan benda-benda yang tidak dapat menciptakan sesuatupun, sedang benda-benda itu sendiri diciptakan? Dan benda-benda itu tidak dapat menolong mereka dan tidak juga dapat menolong dirinya sendiri. Dan jika kamu (hai kaum musyrik) menyeru benda-benda itu untuk memperoleh petunjuk (daripadanya), mereka tidak dapat menurut (menyampaikan hajat) kamu; sama sahaja bagi kamu, samada kamu menyerunya atau mendiamkan diri. Sesungguhnya benda-benda yang kamu seru selain Allah adalah makhluk-makhluk seperti kamu. Oleh itu, (cubalah) menyerunya supaya benda-benda itu dapat memperkenankan permohonan kamu, kalau betul kamu orang-orang yang benar. [Al-A'raf:191-194]

Mungkin agama yg apparently lebih 'masuk akal' ialah kristian. Itupun jika dikaji dgn lebih mendalam ttg agama kristian yg telah diselewengkan,juga tak masuk akal.Mana mungkin seorang manusia boleh jadi Tuhan?Manusia biasa yg perlu makan,minum,tidur,BO dan PU,tidak mungkin itu Tuhan.Tak perlulah kita panjangkan di sini. Cukuplah apa yg Bro Shah, Bro Lim dan lain2 yg tak jemu2 menceritakan kepada kita perbandingan Islam yg sempurna dengan agama lain yg cacat.Mukjizat2 al-quran, dan bukti2 kenabian Rasulullah saw. Di sini juga ingin saya kongsikan ceramah oleh Khalid Yasin, The Purpose of Life, yg diadakan di Saudi Arabia pada 1994,yg menyebabkan 43 org memeluk islam.

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: Wahai Isa Ibni Mariam! Engkaukah yang berkata kepada manusia: Jadikanlah daku dan ibuku dua tuhan selain dari Allah? Nabi Isa menjawab: Maha Suci Engkau (wahai Tuhan)! Tidaklah layak bagiku mengatakan sesuatu yang aku tidak berhak (mengatakannya). Jika aku ada mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, sedang aku tidak mengetahui apa yang ada pada diriMu; kerana sesungguhnya Engkau jualah Yang Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib.
Aku tidak mengatakan kepada mereka melainkan apa yang Engkau perintahkan kepadaku mengatakannya, iaitu: "Sembahlah kamu akan Allah, Tuhanku dan Tuhan kamu", dan adalah aku menjadi pengawas terhadap mereka (dengan membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah) selama aku berada dalam kalangan mereka; kemudian apabila Engkau sempurnakan tempohku, menjadilah Engkau sendiri yang mengawasi keadaan mereka dan Engkau jualah yang menjadi Saksi atas tiap-tiap sesuatu.[Al-Maidah:116-117]

Maka,agama yg sebenar ialah Islam.
Kami bersaksi bahawa tiada Tuhan melainkan Allah.
Dan kami bersaksi bahawa Nabi Muhammad saw itu rasul Allah.

Tetapi,bukankah aqidah Islam sendiri mempunyai banyak cabang?Yg semuanya mengaku Islam,yg semuanya mengaku merekalah yg paling betul?

Bersambung..
Read more!

Wednesday, September 3, 2008

Mencari Tuhan



Sesiapa sahaja yang memiliki akal yang waras pasti akan mencari hakikat di sebalik kehidupan yang dirasai dan disaksikannya. Jiwa insan yang sempurna tidak akan terhenti bertanya tentang rahsia kehidupan ini. Allah telah menfitrahkan insan iaitu memberikan sifat di dalamnya jiwanya perasaan ingin mengetahui. Apatah lagi jika sesuatu itu berkait langsung dengan diri insan itu sendiri.Berbagai perkara sering kita lihat dalam kehidupan ini, sebahagian daripadanya kita gagal memberikan jawapan yang tepat mengenainya jika tidak dibimbing oleh cahaya petunjuk yang sebenar.

Sebab itu jika diandaikan ada seorang bayi yang dihanyutkan air sehingga ke sebuah pulau yang tiada penghuni dari keturunan manusia. Sekiranya dia ditakdirkan hidup sehingga dewasa dan akalnya tidak cacat pasti dia sering bertanya dalam dirinya bagaimana dia boleh wujud di alam ini atau hadir ke pulau tersebut. Sekalipun tanpa bimbingan agama dia tetap akan bertanya siapakah yang menjadikan dirinya dan alam yang dia lihat. Mengapa mesti dia hidup. Perasaan dan jiwanya akan memberontak bertanya tentang hakikat diri. Sehingga akhirnya, jika jiwanya tidak dibimbing dengan hidayah tentu dia akan mengagak objek-objek tertentu yang dikagumi atau digeruninya sebagai punca pergantungan harapan atau dalam kata lain sebagai tuhan dalam kehidupannya. Begitu bermulanya agama yang tidak dibimbing oleh wahyu sebenar.

Sebabnya ini adalah sifat yang sudah wujud dalam jiwa insan iaitu keinganan mengetahui rahsia alam sekaligus desakan jiwa untuk mencari tuhan.

Allah menggambarkan hal ini di dalam al-Quran melalui watak yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim a.s., firman Allah dalam menceritakan kisah ini:Maksudnya:

Dan demikian itu kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan kami yang terdapat di langit dan di bumi agar dia termasuk di dalam orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Ini adalah tuhanku". Tetapi apabila bintang itu hilang dia berkata "aku tidak suka kapada yang lenyap". Kemudian apabila dia melihat bulan terbit dia berkata "Ini adalah tuhanku". Namun apabila bulan itu hilang dia berkata: "Sesungguhnya jika tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku tentu aku termasuk dalam golongan yang sesat". Kemudian apabila dia melihat matahari terbit dia berkata, "Inilah tuhanku, ini lebih besar". Namun apabila matahari itu hilang, dia berkata "Wahai kaumku! Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu semua sekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada tuhan yang mencipta langit dan bumi dalam keadaan cenderung kepada agama yang benar dan aku bukan termasuk dalam golongan yang mempersekutukan tuhan.
[Surah al-An`am ayat 75-79]

Demikian Al-Quran menggambarkan peribadi insan yang waras dan sempurnaan nilai keinsanannya iaitu senantiasa mencari tuhan yang sebenar. Jika insan tidak dibimbing oleh petunjuk dari tuhan yang sebanar maka pasti dia akan tersesat.

Manusia dan persoalan

Insan yang waras senantiasa menimbulkan tanda tanya tentang tuhan atau dalam kata lain bertanya "siapakah yang telah menjadikan dirinya dan alam di sekelilingnya". Akal yang waras meyakini bahawa dirinya tidak muncul dengan kehendaknya tetapi tentulah adanya kuasa yang maha agung yang menciptakannya. Tidak terhenti untuk itu sahaja, dia tentu juga merasai keperluan diri bergantung kepada zat yang agung itu kerana dalam hidup dia pasti menghadapi peristiwa-peristiwa yang terjadi tanpa pilihan atau kemampuannya. Perasaan mencari tempat pergantungan akan terus timbul dan keperluan kepada pertolongan tuhan akan benar-benar dirasai oleh setiap insan. Seterusnya, apabila insan memerlukan tuhan tentu insan ingin mengetahui kehendak atau tuntutan tuhan terhadap dirinya. Ini bagi memboleh insan merasai tuhan bersamanya dan merestuinya. Insan melihat berbagai kejadian dan peristiwa di alam ini, ada golongan yang baik dan ada pula yang jahat. Ada golongan golongan yang zalim dan ada pula yang dizalimi. Ini sekali lagi mendesaknya bertanya "Apakah kesemua ini akan berlaku begitu sahaja. Apakah yang zalim tidak ada sebarang tindakan tuhan terhadapnya sedangkan dia telah menzalimi hamba tuhan yang lain. Apakah selepas adanya penindasan dan penginayaan maka hidup pun hilang begitu sahaja. Apakah sama antara hamba yang ingin mentaati tuhan dengan yang memusuhi tuhan?

Demikianlah berbagai persoalan timbul yang mendesak jiwa insan sekaligus membawa sekali lagi insan bertanya ke manakah perginya manusia selepas berakhirnya kehidupan di dunia ini...

Perumpamaan Yang Menarik

Dr. Muhammad Sa`id Ramadhan al-Buti telah memberikan perumpamaan yang menarik dalam bukunya Madkhal ila Fahm al-Juzur katanya: "Apa pendapat kamu mengenai seorang insan yang membuka kedua matanya selepas tidur yang panjang, dia yang sebelum ini berada di atas katil di dalam bilik tidurnya, tiba-tiba dia dapati diri berada di dalam salah satu gerabak keretapi. Dia dibawa oleh suatu perjalanan ke arah yang dia sendiri tidak tahu. Merentangi bukit-bukau dan lurah yang dia tidak pernah dia lihat dan tahu mengenainya.

Siapakah yang membawa dan meletakkan dia di dalam keretapi tersebut? Bilakah perkara ini bermula? Siapakah yang sedang memandunya? Siapakah pula yang menyusun dan mengatur perjalanannya? Apakah yang orang tersebut mahu daripadanya secara peribadi selepas ini?

Sesungguhnya dia benar-benar tidak tahu semua ini.....!
Apakah anda berpendapat insan berkenaan boleh menutup fikiran dari segala persoalan tersebut? Bolehkah dia merehat urat sarafnya dari terus mendesak dan mencari jawapan mengenai apa yang dia tidak tahu itu?. Bolehkah kemudiannya dia terus asyik berseronok suka dengan melihat jalanan yang cantik dan pandangan yang asing?

Sama ada gerabak tersebut dipenuhi dengan peralatan mewah dan terhias dengan segala perkara yang melalaikan, atau ianya dipenuhi dengan perkara yang menduka dan menyusahkan, namun apakah mungkin untuk dia menjadikan semua itu melupakan dia dari apa yang didesak kepadanya oleh tekanan fikiran dan akalnya? Juga dari kerisauan dan kekeliruan disebabkan keadaan yang tanpa pilihannya, dia dalam lautan kejahilan.

Sekalipun demikian, namun masalah tersebut adalah masih kecil lagi terhad, bilamana keluasan keretapi tersebut adalah terhad dan dalam lingkungan alam yang diketahui tanda-tanda dan kebiasaanya. Ini kerana, bagaimana sekalipun ia bergerak ke timur atau ke barat ia sama sekali tidak akan keluar dari ruang lingkupnya dan tidak akan melepasi melainkan dalam lingkungan bumi.

Namun masalah tersebut bertukar menjadi besar dan begitu besar bilamana keretapi tersebut adalah alam ini keseluruhannya. Bilamana pergerakannya itu adalah merupakan keadaan rangkaian kehidupan insan....[m.s. 6-7, Cetakan Dar al-Fikr al-Mu`asir, Lubnan]

Demikian Muhammad Sa`id Ramadhan al-Buti cuba membayangkan keadaan insan yang sejak kecil membuka matanya dan melihat alam serta pergerakan di sekelilingnya. Juga yang lebih penting melihat dirinya sendiri serta rangkaian perjalanan hidupnya. Apakah tidak terdesak jiwanya untuk bertanya tentang hakikat diri, apakah keadaan yang sedang dihadapinya dan apakah kesudahannya nanti? Mungkinkah pengaruh suasana sekelilingnya boleh atau mampu melupakan dia untuk mencari jawapan bagi erti kehidupannya? Kalaulah ada insan yang demikian tentulah dia sejahil-jahil manusia secara mutlak kerana dia telah lalai memikirkan perkara yang menjadi dasar insan berakal.

Petikan dari artikel Dr. MAZA, Mengapa insan mencari agama.
Read more!