Showing posts with label RIQAQ. Show all posts
Showing posts with label RIQAQ. Show all posts

Wednesday, September 23, 2009

Futur + putus asa + bosan



PENUNTUT ILMU TIDAK BOLEH FUTUR

Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
http://www.almanhaj.or.id/content/2351/slash/0

Seorang penuntut ilmu tidak boleh futur dalam usahanya untuk memperoleh dan mengamalkan ilmu. Futur yaitu rasa malas, enggan, dan lamban dimana sebelumnya ia rajin, bersungguh-sungguh, dan penuh semangat.

Futur adalah satu penyakit yang sering menyerang sebagian ahli ibadah, para da’i, dan penuntut ilmu. Sehingga seseorang menjadi lemah dan malas, bahkan terkadang berhenti sama sekali dari melakukan aktivitas kebaikan.

Orang yang terkena penyakit futur ini berada pada tiga golongan, yaitu:

1). Golongan yang berhenti sama sekali dari aktivitasnya dengan sebab futur, dan golongan ini banyak sekali.

2). Golongan yang terus dalam kemalasan dan patah semangat, namun tidak sampai berhenti sama sekali dari aktivitasnya, dan golongan ini lebih banyak lagi.

3). Golongan yang kembali pada keadaan semula, dan golongan ini sangat sedikit. [1]

Futur memiliki banyak dan bermacam-macam sebab. Apabila seorang muslim selamat dari sebagiannya, maka sedikit sekali kemungkinan selamat dari yang lainnya. Sebab-sebab ini sebagiannya ada yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus.

Di antara sebab-sebab itu adalah.

1). Hilangnya keikhlasan.
2). Lemahnya ilmu syar’i.
3). Ketergantungan hati kepada dunia dan melupakan akhirat.
4). Fitnah (cobaan) berupa isteri dan anak.
5). Hidup di tengah masyarakat yang rusak.
6). Berteman dengan orang-orang yang memiliki keinginan yang lemah dan cita-cita duniawi.
7). Melakukan dosa dan maksiyat serta memakan yang haram.
8). Tidak mempunyai tujuan yang jelas (baik dalam menuntut ilmu maupun berdakwah).
9). Lemahnya iman.
10). Menyendiri (tidak mau berjama’ah).
11). Lemahnya pendidikan. [2]

Futur adalah penyakit yang sangat ganas, namun tidaklah Allah menurunkan penyakit melainkan Dia pun menurunkan obatnya. Akan mengetahuinya orang-orang yang mau mengetahuinya, dan tidak akan mengetahuinya orang-orang yang enggan mengetahuinya.

Di antara obat penyakit futur adalah.

1). Memperbaharui keimanan.
Yaitu dengan mentauhidkan Allah dan memohon kepada-Nya agar ditambah keimanan, serta memperbanyak ibadah, menjaga shalat wajib yang lima waktu dengan berjama’ah, mengerjakan shalat-shalat sunnah rawatib, melakukan shalat Tahajjud dan Witir. Begitu juga dengan bersedekah, silaturahmi, birrul walidain, dan selainnya dari amal-amal ketaatan.
2). Merasa selalu diawasi Allah Ta’ala dan banyak berdzikir kepada-Nya.
3). Ikhlas dan takwa.
4). Mensucikan hati (dari kotoran syirik, bid’ah dan maksiyat).
5). Menuntut ilmu, tekun menghadiri pelajaran, majelis taklim, muhadharah ilmiyyah, dan daurah-daurah syar’iyyah.
6). Mengatur waktu dan mengintrospeksi diri.
7). Mencari teman yang baik (shalih).
8). Memperbanyak mengingat kematian dan takut terhadap suul khatimah (akhir kehidupan yang jelek).
9). Sabar dan belajar untuk sabar.
10). Berdo’a dan memohon pertologan Allah. [3]

PENUNTUT ILMU TIDAK BOLEH PUTUS ASA DALAM MENUNTUT ILMU DAN WASPADA TERHADAP BOSAN

Sebab, bosan adalah penyakit yang mematikan, membunuh cita-cita seseorang sebesar sifat bosan yang ada pada dirinya. Setiap kali orang itu menyerah terhadap kebosanan, maka ilmunya akan semakin berkurang. Terkadang sebagian kita berkata dengan tingkah lakunya, bahkan dengan lisannya, “Saya telah pergi ke banyak majelis ilmu, namun saya tidak bisa mengambil manfaat kecuali sedikit.”

Ingatlah wahai saudaraku, kehadiran Anda dalam majelis ilmu cukup membuat Anda mendapatkan pahala. Bagaimana jika Anda mengumpulkan antara pahala dan manfaat? Oleh karena itu, janganlah putus asa. Ketahuilah, ada beberapa orang yang jika saya ceritakan kisah mereka, maka Anda akan terheran-heran. Di antaranya, pengarang kitab Dzail Thabaqaat al-Hanabilah. Ketika menulis biografi, ia menyebutkan banyak cerita unik beberapa orang ketika mereka menuntut ilmu.

‘Abdurrahman bin an-Nafis -salah seorang ulama madzhab Hanbali- dulunya adalah seorang penyanyi. Ia mempunyai suara yang bagus, lalu ia bertaubat dari kemunkaran ini. Ia pun menuntut ilmu dan ia menghafal kitab al-Haraqi, salah satu kitab madzhab Hanbali yang terkenal. Lihatlah bagaimana keadaannya semula. Ketika ia jujur dalam taubatnya, apa yang ia dapatkan?

Demikian pula dengan ‘Abdullah bin Abil Hasan al-Jubba’i. Dahulunya ia seorang Nashrani. Kelurganya juga Nashrani bahkan ayahnya pendeta orang-orang Nashrani sangat mengagungkan mereka. Akhirnya ia masuk Islam, menghafal Al-Qur-an dan menuntut ilmu. Sebagian orang yang sempat melihatnya berkata, “Ia mempunyai pengaruh dan kemuliaan di kota Baghdad.”

Demikian juga dengan Nashiruddin Ahmad bin ‘Abdis Salam. Dahulu ia adalah seorang penyamun (perampok). Ia menceritakan tentang kisah taubatnya dirinya: Suatu hari ketika tengah menghadang orang yang lewat, ia duduk di bawah pohon kurma atau di bawah pagar kurma. Lalu melihat burung berpindah dari pohon kurma dengan teratur. Ia merasa heran lalu memanjat ke salah satu pohon kurma itu. Ia melihat ular yang sudah buta dan burung tersebut melemparkan makanan untuknya. Ia merasa heran dengan apa yang dilihat, lalu ia pun taubat dari dosanya. Kemudian ia menuntut ilmu dan banyak mendengar dari para ulama. Banyak juga dari mereka yang mendengar pelajarannya.

Inilah sosok-sosok yang dahulunya adalah seorang penyamun, penyanyi dan ada pula yang Nashrani. Walau demikian, mereka menjadi pemuka ulama, sosok mereka diacungi jempol dan amal mereka disebut-sebut setelah mereka meninggal.

Jangan putus asa, berusahalah dengan sungguh-sungguh, mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah. Walaupun Anda pada hari ini belum mendapatkan ilmu, maka curahkanlah terus usahamu di hari kedua, ketiga, keempat,.... setahun, dua tahun, dan seterusnya...[4]

Seorang penuntut ilmu tidak boleh terburu-buru dalam meraih ilmu syar’i. Menuntut ilmu syar’i tidak bisa kilat atau dikursuskan dalam waktu singkat. Harus diingat, bahwa perjalanan dalam menuntut ilmu adalah panjang dan lama, oleh karena itu wajib sabar dan selalu memohon pertolongan kepada Allah agar tetap istiqamah dalam kebenaran.

[Disalin dari buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga “Panduan Menuntut Ilmu”, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO BOX 264 – Bogor 16001 Jawa Barat – Indonesia, Cetakan Pertama Rabi’uts Tsani 1428H/April 2007M]
__________
Foote Notes
[1]. Lihat al-Futur Mazhaahiruhu wa Asbaabuhu wal ‘Ilaaj (hal. 22).
[2]. Lihat al-Futur Mazhaahiruhu wa Asbaabuhu wal ‘Ilaaj (hal. 43-71).
[3]. Ibid (hal. 88-119) dengan diringkas.
[4]. Ma’aalim fii Thariiq Thalabil ‘Ilmi (hal. 278-279
Read more!

Friday, August 14, 2009

Syurga



Sesungguhnya orang-orang yang berbakti (dengan taat dan kebajikan), akan meminum dari piala: sejenis minuman yang bercampur dengan "Kafur" ...

Iaitu sebuah matair (di Syurga), yang diminum daripadanya oleh hamba-hamba Allah (yang taat); mereka boleh mengalirkannya (di tempat-tempat tinggal mereka) dengan aliran yang semudah-mudahnya dan menurut kemahuannya.

(Mereka dikurniakan kesenangan itu kerana) mereka menyempurnakan nazarnya (apatah lagi yang diwajibkan Tuhan kepadanya), serta mereka takutkan hari (akhirat) yang azab seksanya merebak di sana sini.

Mereka juga memberi makan benda-benda makanan yang dihajati dan disukainya, kepada orang miskin dan anak yatim serta orang tawanan,

(Sambil berkata dengan lidah atau dengan hati): "Sesungguhnya kami memberi makan kepada kamu kerana Allah semata-mata; kami tidak berkehendakkan sebarang balasan dari kamu atau ucapan terima kasih,

"Kami sebenarnya takutkan Tuhan kami, takut Ia kenakan kami azab hari yang padanya muka orang-orang yang bersalah: masam berkerut-kerut".

Dengan sebab (mereka menjaga diri dari kesalahan), maka Allah selamatkan mereka dari kesengsaraan hari yang demikian keadaannya, serta memberikan kepada mereka keindahan yang berseri-seri (di muka), dan perasaan ria gembira (di hati).

Dan kerana kesabaran mereka (mengerjakan suruhan Allah dan meninggalkan laranganNya), mereka dibalas oleh Allah dengan Syurga dan (persalinan dari) sutera.

Mereka berehat di dalam Syurga dengan berbaring di atas pelamin-pelamin (yang berhias), mereka tidak nampak di situ adanya matahari (usahkan hawa panasnya), dan tidak juga merasai suasana yang terlampau sejuk;

Sedang naungan pohon-pohon Syurga itu dekat kepada mereka, dan buah-buahannya pula dimudahkan (untuk mereka memetiknya) dengan semudah-mudahnya.

Dan (selain itu) diedarkan kepada mereka (oleh pelayan-pelayannya): bijana dari perak dan piala-piala minuman yang keadaannya laksana kaca (nampak jelas isinya) -

(Keadaannya laksana) kaca, (sedang ia) dari perak; pelayan-pelayan itu menentukan kadar isinya sekadar yang cukup betul dengan kehendak penggunanya.

Dan mereka dalam Syurga itu, diberi minum sejenis minuman yang campurannya dari "Zanjabil",

Iaitu sebuah matair dalam Syurga, yang disebutkan sifatnya sebagai "Salsabil".

Dan mereka dilayani oleh anak-anak muda lelaki yang tetap kekal (dalam keadaan mudanya), yang sentiasa beredar di sekitar mereka; apabila engkau melihat anak-anak muda itu, nescaya engkau menyangkanya mutiara yang bertaburan.

Dan apabila engkau melihat di sana (dalam Syurga itu), engkau melihat nikmat yang melimpah-limpah dan kerajaan yang besar (yang tidak ada bandingannya).

Mereka di dalam Syurga memakai pakaian hijau yang diperbuat dari sutera halus dan sutera tebal (yang bertekat), serta mereka dihiasi dengan gelang-gelang tangan dari perak; dan mereka diberi minum oleh Tuhan mereka dengan sejenis minuman (yang lain) yang bersih suci.

(Serta dikatakan kepada mereka): "Sesungguhnya (segala pemberian) ini adalah untuk kamu sebagai balasan, dan adalah usaha amal kamu (di dunia dahulu) diterima dan dihargai (oleh Allah)".

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Quran kepadamu (wahai Muhammad), dengan beransur-ansur.

Oleh itu hendaklah engkau bersabar menerima hukum Tuhanmu (memberi tempoh kepada golongan yang menentangmu), dan janganlah engkau menurut kehendak orang yang berdosa di antara mereka, atau orang yang kufur ingkar.

Dan sebutlah dengan lidah atau dengan hati akan nama Tuhanmu (di dalam dan di luar sembahyang), pada waktu pagi dan petang;

Dan (dengan apa keadaan pun maka) pada sebahagian dari waktu malam sujudlah kepada Tuhan (dengan mengerjakan sembahyang), dan (seboleh-bolehnya) bertasbihlah memujiNya (dengan mengerjakan sembahyang Tahajjud), pada sebahagian yang panjang dari waktu malam.

Sesungguhnya orang-orang (yang menentangmu) itu sentiasa mencintai (kesenangan dan kemewahan dunia) yang cepat habisnya, serta mereka membelakangkan (tidak menghiraukan bekalan) untuk hari akhirat yang amat berat (penderitaannya kepada orang-orang yang tidak bertaqwa).

Kamilah yang menciptakan mereka serta menguatkan tulang sendi dan urat saraf mereka; (Kami berkuasa membinasakan mereka) dan apabila Kami kehendaki, Kami gantikan (mereka dengan) orang-orang yang serupa dengan mereka, dengan penggantian yang sebaik-baiknya.

Sesungguhnya (segala keterangan yang disebutkan) ini, menjadi peringatan; maka sesiapa yang mahukan (kebaikan dirinya) bolehlah ia mengambil jalan yang menyampaikan kepada keredaan Allah (dengan iman dan taat).

Dan tiadalah kamu berkemahuan (melakukan sesuatu perkara) melainkan dengan cara yang dikehendaki Allah; sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana (mengaturkan sebarang perkara yang dikehendakiNya).

Ia memasukkan sesiapa yang dikehendakiNya (menurut aturan yang ditetapkan) ke dalam rahmatNya (dengan ditempatkannya di dalam Syurga); dan orang-orang yang zalim, Ia menyediakan untuk mereka azab seksa yang tidak terperi sakitnya.

[Al-Insan:6-31]
Read more!

Tuesday, May 12, 2009

kebenaran


“Mereka yang apabila diberitahu oleh orang ramai (pembawa berita) kepada mereka: “Bahawa manusia berkumpul untuk memerangi kamu, maka gerunlah kamu kepada mereka”. (maka berita itu sebenarnya) menambahkan iman mereka lalu berkata: “Cukuplah Allah untuk (menolong) kami, dan Dia sebaik-baik pengurus (yang terserah kepadanya Segala urusan kami)” -Ali 'imran:173-
Read more!

Friday, February 27, 2009

La tahzan


In another Hadeeth (listen to this brother) : If you have a difficulty in your life brother, if you have a difficulty in your life sister, if there is some sadness in your household, if you lost a child, if that child has been hurt, if there is a sickness in your family or whatever the case, whatever difficulty or trial, whatever problem you are going through, listen to the words of Messenger (sallallaahu ‘alayhi wa sallam), it will make it clear. Listen to the words of Rasoolullah (sallallaahu ‘alayhi wa sallam), it will cool your heart, it will take you to that which is right, it will correct you, it will guide you, it will increase your faith, and your patience. There is no difficulty that happens to a Muslim except that Allaah removes a sin because of it even if a thorn pricks him and even to that degree. If Allaah removes to that degree what about some other sadness? Or some other loss or some other trial or some other difficulty?


Lastly Abu Huraira (radiyallaahu ‘anhu) that he heard the Prophet (sallallaahu ‘alayhi wa sallam) and also Abu Said Al Khudri : “No pain, or sickness affects a believer. No tiredness (this is also sickness), or grief nor any worry except that Allaah removes from that person a sin because of it.”

This should tell us to be patient. This should tell us that our pathways are not going to be filled with rose petals and life is not always going to give you that which you want or think you deserve, that there are going to come down your way or into your life things that are sad, things that bring you grief, things that bring difficulty but your test is shown, your character is shown, whether you can weather the storm by being patient with the decree of Allaah, in praising Allah (subhana wa ta’ala), in hoping a reward from Allaah (subhana wa ta’ala), for no one can reward what Allah (subhana wa ta’ala) will give the person who has patience. Allah (subhana wa ta’ala) has granted it and he will grant it without calculation, will grant it without it being something that we could calculate or imagine. So any difficulty brother reflect upon this issue that is khair for you, is good for you, if you are a believer and if you are patient and if you praise Allah (subhana wa ta’ala) and it is a way to remove your sins and a way that you have no understanding of what Allaah ! (subhana wa ta’ala)! It may be preparing you for a better station, a better status in the Hereafter that you would not have reached if He had left you in that state that you were in. But when he tested you, you were patient and therefore Insha-Allaahu wa ta’ala that position or that status will be there.


Khutbah by Abu Uwais Abdullah Ali, Chicago. Read more!

Sunday, January 25, 2009

Expecting the best from Allah

“In accordance with how good your expectations of and hope in Allah are and how truthful your reliance and trust are in Him, Allah will not betray your hopes in the least, as He does not betray the hopes of those who hope and does not cause any effort to go to waste.”
Read more!

Thursday, November 20, 2008

Repent!

A man complained to al-Hasan about a drought, and he said to him:

“Pray to Allaah for forgiveness.”

Another man complained to him of poverty and he said to him:

“Pray to Allaah to forgive you.”

Another man said to him: “Pray to Allaah to bless me with a child.” He said:

“Pray to Allaah for forgiveness.”

Another complained to him that his garden was dry. He said to him:

“Pray to Allaah for forgiveness.”

We asked him about that and he said:

“This is not my personal opinion, for Allaah says in Soorat Nooh:


فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً
[Surat Nooh 71:10-12]

And [Prophet Nooh (عليه الصلاة والسلام)] said,


'Ask forgiveness of your Lord.Indeed, He is ever a Perpetual Forgiver.He will send [rain from] the sky upon you in [continuing] showers,And give you increase in wealth and children and provide for you gardens and provide for you rivers.'

Read more!

Monday, October 27, 2008

Bila Musibah Menimpa

Allah s.w.t berfirman, mafhumnya,

“Demi sesungguhnya! Kami akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut (kepada musuh) dan (dengan merasai) kelaparan dan (dengan berlakunya) kekurangan dari harta benda dan jiwa serta hasil tanaman dan berilah khabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (iaitu) orang-orang yang apabila mereka ditimpa oleh sesuatu kesusahan, mereka berkata: Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali. Mereka itu ialah orang-orang yang dilimpahi dengan berbagai-bagai kebaikan dari Tuhan mereka serta rahmatNya dan mereka itulah orang-orang yang dapat petunjuk hidayatNya. (QS. al-Baqarah:155-157)

Di dalam musnad Imam Ahmad, Nabi s.a.w bersabda,

"Tidaklah seorang hamba yang ditimpa musibah mengucapkan, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, ya Allah berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantilah untukku dengan sesuatu yang lebih baik," kecuali Allah akan memberikan pahala dalam musibahnya dan akan memberikan kepadanya ganti yang lebih baik." (HR. Ahmad 3/27)

Kita Milik Allah dan Kembali Kepada-Nya

Jika seorang hamba benar-benar menginsafi bahwa dirinya adalah milik Allah s.w.t. dan akan kembali kepada-Nya maka dia akan terhibur tatkala ditimpa musibah. Kalimat istirja' ini merupakan penyembuh dan penawar paling mujarab bagi orang yang sedang ditimpa musibah. Dia memberikan manfaat baik dalam waktu dekat maupun di waktu yang akan datang. Kalimat tersebut memuat dua prinsip yang sangat agung. Jika seseorang mampu merealisasikan dan memahami keduanya maka dia akan terhibur dalam setiap musibah yang menimpanya. Iaitu,

Pertama; Bahwasanya manusia, keluarga dan harta pada hakikatnya adalah milik Allah s.w.t. . Ianya bagi manusia tidak lebih hanya sebagai pinjaman, sehingga jika Allah s.w.t. mengambilnya dari seseorang maka ia ibarat seorang pemilik barang yang mengambilnya kembali dari si peminjam. Demikian juga manusia sebenarnya tidak mempunyai apa-apa , sebelumnya (ketika lahir) dia tidak memiliki apa-apa dan setelahnya (ketika mati) ia pun tidak memiliki apa-apa lagi.

Dan segala sesuatu yang dimiliki oleh seorang hamba tidak lebih hanya seperti barang pinjaman yang bersifat sementara. Seorang hamba juga bukanlah yang telah menjadikan dirinya memiliki sesuatu setelah sebelumnya tidak punya. Dan diapun bukanlah menjadi penjaga terhadap segala miliknya dari kebinasaan dan kelenyapan, dia tidak mampu untuk menjadikan miliknya tetap terus kekal bersamanya . Walau apapun usaha seorang hamba dia tidak akan mampu untuk menjadikan miliknya kekal abadi, juga tidak mampu menjadikan dirinya sebagai pemilik hakiki.

Dan juga seseorang itu hendaklah membelanjakan apa-apa yang dimilikinya berdasarkan perintah pemiliknya yang hakiki, memperhatikan apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang. Dia membelanjakan bukan sebagai pemilik, kerana Allah-lah Sang Pemilik, maka tidak boleh baginya membelanjakan pinjaman itu kecuali dalam hal-hal yang sesuai dengan kehendak Pemilik Yang Hakiki.

Ke dua; Bahwa kesudahan dan tempat kembali seorang hamba adalah kepada Allah Pemilik yang Haq. Dan seseorang sudah pasti akan meninggalkan dunia ini lalu menghadap Allah s.w.t. sendiri-sendiri sebagaimana ketika mula-mula diciptakan, tidak memiliki harta, tidak membawa keluarga dan anak isteri. Akan tetapi manusia menghadap Allah dengan membawa amal kebaikan dan keburukan.

Jika awal mula dan kesudahan seorang hamba adalah demikian maka bagaimana dia akan berbangga-bangga dengan apa yang dia miliki atau berputus asa dari apa yang tidak dimilikinya. Maka memikirkan bagaimana awal dirinya dan bagaimana kesudahannya nanti adalah merupakan penawar paling mujarab untuk mengubati sakit dan kesedihan. Demikian juga dengan mengetahui secara yakin bahwa apa yang akan menimpanya pasti tidak akan sia-sia atau luput dan begitu juga sebaliknya.

Allah s.w.t. berfirman, mafhumnya,

Tidak ada sesuatu kesusahan (atau bala bencana) yang ditimpakan di bumi dan tidak juga yang menimpa diri kamu, melainkan telah sedia ada di dalam Kitab (pengetahuan Kami) sebelum Kami menjadikannya; sesungguhnya mengadakan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kamu diberitahu tentang itu) supaya kamu tidak bersedih hati akan apa yang telah luput daripada kamu dan tidak pula bergembira (secara sombong dan bangga) dengan apa yang diberikan kepada kamu dan (ingatlah), Allah tidak suka kepada tiap-tiap orang yang sombong takbur, lagi membanggakan diri.
(QS. al-Hadid:22-23)

Ingat nikmat yang masih ada

Bandingkan besarnya musibah dan besanya nikmat yang telah diterima. Maka akan didapati bahwa Allah s.w.t masih memberikan nikmat seumpama musibah malah sebenarnya lebih banyak lagi. Dan jika seseorang bersabar dan redha maka Allah s.w.t. akan memberikan sesuatu yang lebih baik dan besar daripada apa yang hilang dalam musibah, bahkan mungkin dengan berlipat ganda. Dan jika Allah s.w.t. menghendaki maka akan menjadikan lebih dan lebih lagi dari yang ada.

Musibah Menimpa Semua Orang

Sedarlah bahawa musibah itu pasti dialami oleh semua orang. Lihatlah ke kanan, maka akan didapati di sana orang yang sedang diberi ujian, dan jika menengok ke kiri maka di sana ada orang yang sedang ditimpa kerugian dan malapetaka. Dan seorang yang berakal, sekiranya ingin memperhatikan sekelilingnya maka dia tidak akan mendapati kecuali di sana pasti ada ujian hidup, entah dengan hilangnya barang atau orang yang dicintai atau ditimpa sesuatu yang tidak disukai dalam hidup.

Kehidupan dunia tidak lain adalah ibarat kembangnya tidur atau bayang-bayang yang pasti lenyap. Jika dunia mampu membuat orang tersenyum sesaat maka dia mampu mendatangkan tangisan yang panjang. Jika ia membuat bahagia dalam sehari maka ia pun membuat duka sepanjang tahun. Kalau hari ini memberikan sedikit maka suatu saat akan menahan dalam waktu yang lama. Tidaklah suatu rumah dipenuhi dengan keceriaan kecuali suatu saat akan dipenuhi pula dengan duka.

Ibnu Mas'ud r.a berkata, "Pada setiap kegembiraan ada duka, dan tidak ada satu rumah pun yang penuh dengan kebahagiaan kecuali akan dipenuhi pula dengan kesedihan. Berkata pula Ibnu Sirin, "Tidak akan pernah ada senyuman yang berterusan , kecuali setelahnya pasti akan ada tangisan."

Hindun binti an-Nu'man berkata, "Kami melihat bahwa kami adalah termasuk orang yang paling mulia dan memiliki harta paling banyak, kemudian matahari belum sampai terbenam sehingga kami telah menjadi orang yang tidak punya apa-apa. Dan merupakan hak Allah s.w.t. bahwa tidaklah Dia memenuhi suatu rumah dengan kebahagiaan, kecuali akan mengisinya pula dengan kesedihan." Dan ketika seseorang bertanya tentang apa yang menimpanya maka dia mengatakan, "Kami pada suatu pagi, tidak mendapati seseorang pun di Arab kecuali berharap kepada kami, kemudian kami di petang harinya tidak mendapati mereka kecuali menaruh belas kasihan kepada kami."

Keluh Kesah Menambahkan Penderitaan

Sedarlah bahawa keluh kesah tidak akan dapat menghilangkan musibah. Bahkan hanya akan menambah serta melipatgandakan sakit dan penderitaan.

Musibah Terbesar Adalah Hilangnya Kesabaran

Ingatlah bahwa hilangnya kesabaran dan sikap berserah diri adalah lebih besar dan lebih berbahaya daripada musibah itu sendiri. Kerana hilangnya kesabaran akan menyebabkan hilangnya keutamaan berupa kesejahteraan, rahmat dan hidayah yang Allah s.w.t. kumpulkan tiga hal itu dalam sikap sabar dan istirja' (mengembalikan urusan kepada Allah).

Sumber asal : “Ilaj harril musibah wa huzniha,” Imam Ibnul Qayyim (KM)

Dipetik dan disaring dari ; http://www.alsofwah.or.id/

Read more!

Friday, October 24, 2008

no Rescuer, no Rescuer, except You


The Sick Heart by ibn al-Qayyim

This is a heart with life in it, as well as illness.
The former sustains it at one moment, the latter at
another, and it follows whichever one of the two
manages to dominate it.

It has love for Allah,
faith in Him, sincerity towards Him, and reliance
upon Him, and these are what give it life.
It also has a craving for lust and pleasure, and prefers
them and strives to experience them.
It is full of self-admiration, which can lead to its own
destruction.
It listens to two callers: one calling it to
Allah and His Prophet and the next world; and the
other calling it to the fleeting pleasures of this world.
It responds to whichever one of the two happens to
have most influence over it at the time.. ..
Read more!

Monday, October 6, 2008

The Story of A Syeikh from Azhar and A Prostitute

Source: http://www.ahlalhdeeth.com/vbe/showthread.php?t=1857

As was narrated by Shaykh Ali Tantawi [May Allah have mercy on him] in his memoir about Shaykh Ahmad Al-Zayaat [May Allah have mercy on him].

Shaykh Ali Tantawi said:

“The Shaykh (Ahmad Al-Zayaat) was a teacher, who did not know anything of this world except: The Azhar where he used to teach, the house he used to live in, and the road between them.

As years passed by, and he got older, his health started to deteriorate, and he needed to rest. So the doctor forced him to take some time of, and suggested that he goes somewhere away from his place of work and residence, and advised him to enjoy the quietness and calmness of the parks next to the Nile.
So one day, the Shaykh went out and stopped a carriage (as cars were not that available at the time). He told the driver: My son, take me to a nice place were I can enjoy the view and relax.

The driver of the carriage, however, was a wicked person, and took the Shaykh to a place in Egypt, which at the time had several prostitution houses.

After arriving he told the Shaykh: Here [we are].

The Shaykh said: O son, Magrib prayer is drawing near, where can I pray? Take me first to the Masjid.

The Driver [pointing to one of those houses] said: The Masjid is over there.

The door [of the place] was open, and the lady running that house was sitting, in the manner those like her usually sit.

When the Shaykh saw her, he lowered his gaze. He saw a seat, so he headed there and sat, waiting for the Call for prayer (Adhan).

[The woman in confusion, just] stared at him.

What brought that man here?

He doesn’t look like any of her regular customers.

She kept thinking to herself, but did not dare ask him what he was doing here.

What kept her from asking was the shyness that remained in her heart, even as a prostitute. However, that shyness only appears in front of people of Piety.

He, on the other hand, kept doing Tasbeeh (saying Subhan Allah), whilst looking at his watch, until he heard the Adhan of Maghrib from far away.

He asked her: Where is the Moazin (Person who calls for prayers) here?

Why didn’t he call for prayer when the time entered?

Are you his daughter?

She … kept silent.

He waited for a while, and then said: My daughter, Maghrib time is short, and it is not permissible to delay it, and I do not see anyone here, so if you have your Wudu (ablution) then pray behind me Jama’ah.

He gave the call for prayer, and without looking at her, as he was about to give the Iqamah, he noticed stillness behind him?!

He asked: What is wrong? Don’t you have your Wudu?

All of a sudden, as if her Iman (Faith) woke up and she remembered the old days. The days when she was filled with purity, and was away from sin, she started to cry loudly, and threw herself at his feet.

The Shaykh surprised, did not know in what way he can calm her.

She then, started narrating her story.

He saw in her words great regret, and felt the truth in her repentance. He realized the sincerity in what she was saying, so he told her: Listen, my daughter, to what the Lord of all creation says: {Say, “O My servants who have transgressed against themselves [by sinning], do not despair of the Mercy of Allah. Indeed Allah forgives all sins …”} (39:53).

All sins, my daughter, all sins …

The door of repentance is open to every sinner and it is so wide that it can encompass them all no matter how heavy their load [of sins] is … even Kufr.

So whoever disbelieves in the all Mighty, after he was a believer, but repents before the hour of his death comes, and he was sincere in his repentance, and he renewed his Islam, Allah will accept him.

Allah, my dear daughter, is the most Generous of all. Did you ever hear of anyone generous shutting the door in the face of those who come seeking him?

Stand up and go wash yourself, and cover yourself. Go and clean your skin with water and your heart with repentance and regret. Approach your Lord, and I will wait for you.

But do not delay, so that we do not miss Maghrib prayer.

She did as he asked, and returned to him with a new dress and a new heart. She stood behind him and prayed. She felt and tasted the sweetness of that prayer, and felt that this prayer purified her heart.

When the prayer was over, he told her: Come with me, and try to cut every relation you have with this place and everyone in it. Try to erase the time you spent here from your memory.

Consistently ask Allah for his forgiveness, and increase in doing righteous deeds.

Verily, adultery is not as big a sin as Kufr, and Hind [bint ‘Utbah – May Allah be pleased with her], who was a disbeliever and had animosity in her heart to the Prophet of Allah. After that she became from the righteous believers, and we started saying: Allah is well-pleased with her.

The Shaykh then took her to a house of righteous ladies, and then found her a righteous husband and advised him to take good care of her” 1/252.
Read more!

Saturday, September 6, 2008

A meeting with Allah



A poem by Ibn Qayyim based on Quranic ayaats and authentic ahaadith.

"O Allah, make us the inhabitants of Jannah"
Read more!

Sunday, August 31, 2008

Knowledge and Hydrocephalus


May Allah give us strength to practise our knowledge and make us steadfast in our deeds.
---------------

“…Allah’s way of building the human soul is to develop it gradually, just like a building. You build a building floor by floor, placing one brick over the other, etc. until the human soul is fully built.

The human soul cannot be built overnight, it cannot be built overnight. It needs a long time to be built…build it gradually, just like the body grows gradually. When a person is born, he is half a meter tall, for example. One day, he will be seven years old, and one day he will be seventy-five years old. He will grow from being a meter tall to being a meter and a quarter tall, etc. When he gets to be twenty years old, he will be between 170 to 175 centimeters tall.

Therefore, it is very dangerous for you to have a lot of knowledge while having only a modest level of action. The one who hears you thinks to himself ‘Ma Sha’ Allah!’ He hears you talking about this verse from the Qur’an, this hadith, the hadith being authentic, the hadith being weak, ‘Aqidah, Islamic history, the Khulafa’, ‘Umar said this, Abu Bakr said that - may Allah be Pleased with them all. However, you are ten centimeters when it comes to action, and when it comes to knowledge, you are over three meters. There is no balance! This is a disease. Having a lot of knowledge without action is a disease just like having a lot of action without knowledge.

There is a disease in the medical field known as hydrocephalus. It is when someone’s head becomes so enlarged that his body is unable to carry it. I saw someone with his head like this, his body was thin, and his knees were unable to support his head. It could not! This is what many people look like: they learn a lot of knowledge - they memorize, they do not learn - they memorize. However, his head is poised like this while his body and limbs cannot support it. The size of a person’s head must be consistent with the size of his body. Otherwise, he will be considered diseased if any part of his body grows larger while the rest of his body doesn’t grow. If the medicine he takes all goes to one part of his body - for example, it all goes to his nose - his nose will become bigger than the rest of his head, and he will be deformed!

So, the Religion of Allah is a gradual divine method of developing the human soul just like this. Just like a medicine dropper administers the medicine gradually, they would take two verses or two ahadith, and they would go act upon them just like this…”

['at-Tarbiyah al-Jihadiyyah wal-Bina''; 3/182-183]
Read more!

Sunday, August 24, 2008

Bahagia terletak pada sifat redha

BAHAGIA belum tentu tersimpan di istana yang megah. Bahagia pada sepasang kekasih tentu ada pasang surutnya. Di manakah bahagia? Pada keluasan ilmu, rezeki dan pangkat, atau duduk bercengkerama dengan isteri dan anak-anak? Ternyata itu semua boleh juga menggoncang perasaan, memerah otak jadi lemah, badan kering dan layu, sakit di hati yang susah mengubatinya.

Pakar motivasi menyatakan: "Anda adalah apa yang anda fikirkan mengenai diri anda". Manakala hadis Rasulullah SAW memberi petua lagi bernas, sabdanya: "Sungguh hebat keadaan orang mukmin, mereka sentiasa berkeadaan baik. Tidak terjadi yang demikian itu kecuali pada diri orang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan ia bersyukur, hal ini adalah kebaikan. Dan jika ia ditimpa kesusahan ia bersabar, itu juga adalah kebaikan." (Hadis riwayat Imam Muslim).
Semua baik, baik dan baik. Apa yang Allah pilih untuk kita adalah baik. Bila sakit ubatnya adalah senyum dan reda. Diuji dengan kekurangan harta tidak menjadi masalah bagi orang yang percaya bahawa bukankah selama ini Allah memberi lebih banyak daripada mengambil? Ibnu Mas'ud apabila ditanya: "Apakah engkau bersedih kerana kehilangan sebelah kakimu?" Beliau menjawab: "Bukankah Allah telah meninggalkan untukku yang sebelah lagi?" Orang banyak mengatakan: "Bahagia itu adalah kepuasan hati." Tapi pernahkah kita berfikir bahawa manusia tidak akan pernah puas?
Selagi mana ia berada di dunia ia pasti berhadapan dengan kekurangan. Kurang popular, kurang kaya, kurang cantik, kurang sihat dan pelbagai tuntutan nafsunya yang tidak akan pernah rasa dengan sempurna. Selami dasar hati anda, percayalah bahawa sesungguhnya bahagia itu ada pada sifat reda.Ia bagaikan ubat yang menyejukkan orang yang demam. Seperti rimbunan pohon di tengah panas yang terik, umpama hembusan angin yang sepoi-sepoi bahasa memujuk hati yang luka.
Sesungguhnya apa-apa yang datang kepada kita adalah baik belaka kerana Allah SWT lebih mengetahui apa yang 'sesuai' untuk kita. Dia yang memilih, yang Maha sempurna aturan-Nya, yang suci dari cacat cela atas segala pentadbiran-Nya. Sebagai manusia biasa ada kalanya kita ‘tidak terima’ dengan apa yang terjadi pada diri. Tapi biarlah perasaan itu dikawal pada paras hanya ‘terkejut’ di puncaknya, kemudian surut dengan perasaan reda atas ketentuan-Nya.
Firman Allah bermaksud: "Allah pun reda ke atas diri mereka dan mereka pun reda dengan pemberian-Nya." (Surah al-Bayyinah, ayat 8)
Ada dua rahsia yang terkandung dalam kalimah Allah itu, iaitu pertama adalah ayat ini cuba memujuk kita bahawa apa-apa yang datang kepada kita semuanya adalah hadiah pemberian Allah. Ujian itu sebenarnya hadiah yang paling mahal tetapi kadang-kadang manusia menganggap cuma nikmat yang paling berharga.Kedua, wujudnya hubungan kasih sayang antara Allah dan hamba-Nya.
Sayang akan melahirkan reda ke atas apa saja yang dilakukan oleh orang yang kita sayang. Kerana sayang, masakan isteri yang kurang garam terasa sedap juga. Kekasih yang menduga dan menyakiti hati kita terpaksa kita reda sebab sayang. Tetapi mengapa pula kita merajuk jika Allah menguji kesetiaan cinta kita. Jika sakit mengeluh panjang, lupa dengan hari ketika ia sihat. Kalau rugi semua orang di amuk, di pejabat, di pasar, di rumah, di jalan raya semua terkena tempias kemarahannya. Rugi yang sedikit itu telah menutup kurniaan Allah yang banyak pada rezekinya selama ini.
Betapa sengsaranya orang yang tiada sifat reda. Hidup tidak tenang, dikejar rasa takut, hati rasa kosong padahal peti besinya penuh dengan duit. Segala hiburan dan perhiasan dunia memang boleh mendatangkan bahagia tapi bukan bahagia yang 'diam' dalam hati, ia cuma menempel sebentar di dinding hati kemudian lenyap begitu cepat. Carilah bahagia yang hakiki di atas jalan yang telah dibentangkan oleh kekasih Allah, Muhammad SAW. Bahagia itu adalah reda. Cukup senang formulanya tetapi susah dilakukan kecuali oleh orang yang bijak mengawal perasaan lagi beriman.
Tanda reda ada tiga. Pertama adalah kata yang baik ketika menerima ujian Allah. Innalillahi wainna ilaihi rajiun (Kami adalah milik Allah dan kepada Allah kami akan dikembalikan). Bukan sumpah seranah dan maki hamun rasa tak puas hati.Kedua, ketika susah ingatlah dengan nikmat Allah yang banyak. Di situ anda akan berasa beruntung dengan apa yang ada pada diri. Ketiga, ikhtiar jangan berhenti. Reda bukan bermakna menerima tanpa usaha. Itu adalah putus asa dan pesimis namanya. Tapi reda adalah semangat yang membangkitkan hati yang sedih, yang menajamkan akal fikiran, menguatkan hentakan kaki dan membuahkan idea yang bernas untuk berjaya. Jadilah orang yang bahagia dengan kekuatan yang tersimpan dalam mustika yang bernama reda kepada Allah.
Read more!