Showing posts with label Politik. Show all posts
Showing posts with label Politik. Show all posts

Saturday, October 17, 2009

The unwinnable and avoidable war



American soldiers serving in Afghanistan are depressed and deeply disillusioned, according to the chaplains of two US battalions that have spent nine months on the front line in the war against the Taleban.

Many feel that they are risking their lives — and that colleagues have died — for a futile mission and an Afghan population that does nothing to help them, the chaplains told The Times in their makeshift chapel on this fortress-like base in a dusty, brown valley southwest of Kabul.

“We’re lost — that’s how I feel. I’m not exactly sure why we’re here,” said Specialist Raquime Mercer, 20, whose closest friend was shot dead by a renegade Afghan policeman last Friday. “I need a clear-cut purpose if I’m going to get hurt out here or if I’m going to die.”

Sergeant Christopher Hughes, 37, from Detroit, has lost six colleagues and survived two roadside bombs. Asked if the mission was worthwhile, he replied: “If I knew exactly what the mission was, probably so, but I don’t.”

Full story
Read more!

Tuesday, May 19, 2009

Saturday, May 16, 2009

The game Obama is playing



i am not a political analyst, and i know very little about politics. but as a 'layman' watching israel supporters on aljazeera expressing worries about the Obama administration policy towards israel, i think this US-israel-palestine-iran 'game' seems interesting. surely Obama has much more sense than Bush. we will see how this game turns out.

btw, the person in the video above is Prof. Norman Finkelstein. He is a jew, but one of those who bravely criticize Israel, that he's banned from entering Israel for 10 years. For those who interested, you should watch his debate with Alan Dershowitz regarding the false facts in Dershowitz's book, 'The Case of Israel'. He was great.

excerpts from Barack Obama hints at tougher line on Israel

The Obama Administration has signalled a tougher approach towards Israel ahead of fresh talks on the Middle East peace process by insisting it must endorse the creation of an independent Palestinian state.“Israel has to work toward a two-state solution,” declared Vice-President Joe Biden today in a speech to the annual conference of a powerful pro-Israel lobby group in Washington. “You’re not going to like my saying this,” he warned the American Israel Public Affairs Committee (Aipac) before adding that the Jewish state should not build any more settlements on Palestinian territory, and should “dismantle existing outposts and allow Palestinians freedom of movement”.

He added that Israel had the right “to make its own judgment about what it needs to do to defend itself”, which many members of the audience saw as a hint that the US might allow it to deliver an airstrike against Iran’s nuclear sites.

Last month, Hillary Clinton, the US Secretary of State, warned Israel that it risks losing Arab support for combating threats from Iran if it rejects peace negotiations with the Palestinians.

General James Jones, Mr Obama’s National Security Adviser, is also said to have told a European foreign minister that — unlike the Bush Administration — the White House was now ready to be “forceful” with Israel.

“The new Administration will convince Israel to compromise on the Palestinian question,” General Jones was reported to have written in a confidential telegramme. “We will not push Israel under the wheels of a bus, but we will be more forceful toward Israel than we have been under Bush.”

President Ahmadinejad of Iran was today meeting the heads of ten hard-line Palestinian groups — including Hamas — on a visit to Syria, sending what one of the leaders said would be a message to the new right-wing Israeli Government. The Iranian leader arrived in the afternoon and went to the People’s Palace in Damascus, where he was given a red-carpet welcome by President Assad followed by a closed-door meeting.
Read more!

Tuesday, February 17, 2009

Nasihat

“Wahai Ikhwan Muslimin yang mulia! Sasaran dakwah al-din dan tajdid Islami (pembaharuan Islam) itu bukanlah mudah. Bukanlah tujuan dan tumpuannya untuk menukar kerajaan semata. Tidak jua untuk mengubah satu suasana politik kepada suasana politik yang lain. Tidak untuk menyebarkan pengetahuan dan ilmu atau menghadapi buta huruf dan kejahilan atau memerangi pengangguran, atau mengubati kecacatan masyarakat dan akhlak atau seumpamanya seperti diperjuangkan para pejuang perubahan di Barat dan Timur.

Sebaliknya, ia adalah seruan Islam yang merangkumi akidah dan akhlak, amalan dan siasah, ibadah juga keperibadian diri dan masyarakat. Ia meliputi akal dan jiwa, roh dan jasad. Ia bergantung kepada perubahan mendalam dalam hati dan jiwa, akidah dan akal. Ia terpancar dari hati sanubari sebelum terbit dari pena, atau helaian buku, atau mimbar syarahan. Ia terlaksana dalam tubuh pendakwah dan kehidupannya sebelum dia menuntut dilaksanakan dalam masyarakat keseluruhannya… Istimewanya dakwah dan kesungguhan para nabi ialah ketulusan mereka dari memikirkan kepentingan kebendaan, hasil yang segera. Mereka tidak mencari dengan dakwah dan jihad mereka melainkan keredhaan Allah. Melaksanakan perintah-Nya dan menunaikan risalah-Nya. Akal dan pemikiran mereka tulus dari amalan untuk dunia, mendapat kedudukan, menghasilkan kekuatan untuk keluarga dan pengikut, memperoleh kerajaan. Bahkan itu semua tidak terlintas dalam fikiran.

Adapun kerajaan yang tertegak untuk mereka pada waktu mereka dan kekuatan pada masa itu hanyalah hadiah daripada Allah. Ia sebagai jalan untuk sampai kepada matlamat agama, melaksanakan hukum-hakamnya, mengubah masyarakat dan mengarahkan kehidupan.

Ini seperti firman Allah (maksudnya), Iaitu mereka (umat Islam) yang jika Kami berikan mereka kekuasaan memerintah di bumi nescaya mereka mendirikan sembahyang serta memberi zakat, dan mereka menyuruh berbuat kebaikan serta melarang dari melakukan kejahatan dan perkara yang mungkar. Dan (ingatlah) bagi Allah jualah kesudahan segala urusan. (al-Hajj: 41).

Bukanlah sama sekali kerajaan yang diperoleh itu salah satu dari matlamat mereka. Bukan jua salah satu dari tujuan mereka. Tidak jua dari tajuk perbicaraan mereka, atau salah satu dari mimpi mereka. Hanya ia adalah hasil semula jadi untuk dakwah dan jihad. Sama seperti buah yang merupakan hasil semula jadi dari kesuburan pokok dan kesungguhan pembajaannya….

“Wahai tuan-tuan! Besarnya perbezaan antara matlamat yang dituju dan natijah yang muncul. Perbezaan ini akan zahir dalam jiwa yang bekerja untuk itu. Maka, yang bertujuan mendapatkan kerajaan akan hilang kesungguhan dan diam apabila tidak memperolehnya, atau hilang harapan mendapatkannya. Dia akan berhenti dari dakwah. Dia juga akan melampau jika berjaya. Bahaya bagi setiap jemaah (kumpulan) yang pemikiran mereka dibentuk atas cinta (mendapatkan) kerajaan (kuasa) dan bekerja untuk itu. Kerana ia akan menyebabkan mereka meninggalkan jihad di jalan dakwah atau boleh terpaling dan terseleweng tujuan. Sebabnya, uslub (cara) untuk mendapatkan kerajaan berbeza dengan uslub dakwah.

Wajib kepada kita membersihkan akal dan jiwa, semata-mata untuk dakwah. Hanya dakwah, khidmat, pengorbanan, mengutamakan saudara Muslim, mengeluarkan manusia - dengan izin Allah - dari segala kegelapan kepada cahaya (Islam), dari jahiliah kepada Islam, dari kesempitan dunia kepada keluasannya. Dari kekejaman agama-agama yang sesat, sistem-sistem yang zalim, mazhab-mazhab yang tidak menentu, kepada keadilan Islam dan lembayungnya. Faktor yang membawa kita kepada amal dan jihad hanyalah untuk menunaikan perintah Allah dan kemenangan pada hari akhirat. Juga kerana apa yang Allah sediakan untuk hamba-hamba-Nya dari ganjaran dan pahala. Kemudian, faktor lain ialah simpati kepada makhluk, kasihan kasih kepada insan yang terseksa, dan keinginan terhadap keselamatan manusia.

Jika pada satu peringkat dakwah, atau pada satu masa - setelah prinsip-prinsip dakwah dan akidah kukuh dalam jiwa pendakwah - tujuan dakwah tidak dapat dicapai melainkan dengan mendapatkan kerajaan, kita akan berusaha mendapatkannya. Demi kemaslahatan dakwah. Dengan jiwa yang luhur dan bersih, benar dan amanat, khusyuk dan tulus, seperti kita bersungguh dalam tanggungjawab dan rukun agama, juga ibadah-ibadah yang lain. Tiada beza bagi seorang Mukmin antara kerajaan dan ibadah yang lain, jika telah ikhlas dan betul niatnya. Kesemua itu dalam redha Allah, kesemuanya pada jalan Allah. Kesemuanya ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah.”


(Al-Qaradawi, Al-Syeikh Abu Al-Hasan Al-Nadwi kama ‘araftu, m.s. 122-125, Damsyik: Dar al-Qalam).
Read more!

Thursday, February 12, 2009

The Sickening Political Drama

~ Stomach Retching ~

Assalamualaikum warahmatullah.

I dont know why is it so hard for me to understand what is in these politicians' minds, that they can bear themselves to go to this extent, when i think me and other people are starting to puke after nauseating for so long.

This drama has sickening plots and scenes, involving all sorts of beings, be it the governments, oppositions, prime minister, going-to-be prime minister, hoping-to-be prime minister, the sultan, the mufti, the police, mr. karpal the 'man', the ousted, the frogs, the chameleons, bla bla bla and of course, us, the 'rakyat Malaysia'.

Dont they think that they have a country to run?
economic strategies to plan?
social welfares to take care of?
job opportunities to create?

But why are these drama series do not stop?
Cant u just start working and show that u are the correct fellows we voted for?
That u were not hypoxic babies?

Power will not quench your thirst.
It never relieves your craves.
Wipe out that froths in your mouth!
You make me sick!

" O Allah, give us leaders like Al-Farouq, and dont leave us in the hands of the musyrikun "
Read more!

Friday, January 16, 2009

Boycott is not stupid

The calls for a boycott of Western goods is targeted primarily at those companies that are actively investing and thereby supporting the Zionist regime in Israel, the Israeli war machine and the colonising programme that is taking place in the occupied territories. There has never been a call to boycott American goods just because they are American, nor have there been calls to reject everything that is Western in toto. Indeed it would be pointless to do so living as we do in an integrated world economy where all national economies are inter-dependent with one another.

Nonetheless, for those still worried about the calls for boycotts and the implications thereof, let us remind ourselves of some simple realities:

Firstly, these foreign companies have never come to Malaysia or any other developing country for the sake of charity or to be nice to Malaysian citizens and workers. Its not as if one morning one of the CEOs of these multinationals woke up and thought to himself: “I have to invest in Malaysia to give work to the poor folk of Malaysia whom I’ve never met”. Malaysia was simply a convenient destination for them to park their capital thanks to the availability of labour, the tight control of workers (through repressive laws and anti-union legislation) and a pro-capital infrastructure that we had created for them. But let us not be naïve enough to think that any of this was charity on the part of the multinationals, who were quick to relocate as soon as there were other sources of cheap (and controlled, domesticated) labour abroad – first to Vietnam and now to China.

Fourthly, let us not forget the exploitative nature of the foreign investment we have seen thus far. I am stunned when I read and hear liberals say things like “what about the poor people working at fast food restaurants? And who will take care of them?” Well for a start I don’t think that working as cheap labour frying burgers or cleaning toilets counts as much of a career path in the first place. And we need to ask ourselves how and why we have allowed ourselves to slip into this precarious situation where we have become so dependent of companies that seek cheap, unskilled labour, to make up for the responsibilities of the state in the first place. In other societies – such as some of the states in India that have resisted the entry of multinationals – local governments and societies have been forced to remain resilient and imaginative in finding and creating job opportunities for their citizens rather than allowing them to be bought as cheap
workers on a temporary basis.

Gaza and the Liberal Conscience- The Lessons for Malaysia(Part V)
By Farish A. Noor

With the crisis in Gaza spiralling out of control and there being more talk about the need for boycotts of American goods, a wellspring of collective anxiety has broken out among Malaysians from all walks of life and as expected, a flood of liberal froth has flooded the internet as well.

Understandably a large section of the Malaysian public is perturbed by all this talk of boycotts and are now panicking at the prospect of having their lifestyles compromised. What might happen, they wonder, if fast-food outlets selling junk food (and its not called junk food for nothing you know) are shut down? Worse still, what will happen to Malaysian workers if American companies start pulling out? And what will happen if the threat of boycotts come true?
Well, before we all hit the panic buttons let us remember some simple facts:

The calls for a boycott of Western goods is targeted primarily at those companies that are actively investing and thereby supporting the Zionist regime in Israel, the Israeli war machine and the colonising programme that is taking place in the occupied territories. There has never been a call to boycott American goods just because they are American, nor have there been calls to reject everything that is Western in toto. Indeed it would be pointless to do so living as we do in an integrated world economy where all national economies are inter-dependent with one another.

This is reminiscent of the boycott of companies (and banks, notably) that actively invested in South Africa during the days of apartheid and again the aim was not to hurt Western economies or workers, but to make the simple point that we will not collaborate – directly or indirectly – with any government, corporation or bank that actively supported a racist regime.

But the heart-strings of the Malaysian liberals are tugged by the plaintive appeals of the managers of these companies when they remind us that Malaysians are also employed by these firms, and that there are bound to be job losses, etc. Furthermore we are told that such a boycott may occasion capital flight (which is bound to happen with the global recession in any case) and that Malaysia may have to go it alone henceforth. Right. Good.

These anxieties stem from the psycho-social conditioning that Malaysians have been put through after decades of uneven and ill-advised development since the 1980s. For too long Malaysia’s developmental model has been based on one model, namely that of the consumerist market-driven model of the USA. We naively believed that we could ‘leap-frog’ our way to developed country status by simply copying the developmental path of developed nations, while remaining blissfully ignorant of the power differentials that divide us. For too long we mistakenly assumed that by simply buying foreign technology would could develop, without at the same time building our own base of local scientists, researchers, academics and entrepreneurs. This has been the same mistake made by countless other developing nations, and now we see the results:

Our urban landscape has been altered to the point where anyone above the age of 40 would no longer recognise Malaysia today as every street, every neighbourhood, every avenue of our urban settlements are dotted with fast-food joints and shopping malls that sell us every brand of consumer product; most of which we do not really need.

In terms of our social values and standards of living, we have come to expect things that simply cannot be sustained in the long run, either economically or environmentally: Huge condos crammed with people, a city whose streets are crammed with cars, families with more than two automobiles, a luxury-driven lifestyle which basically forces us to become double-income families where domestic duties are then passed onto foreign maids and servants, etc. We demand these luxuries with the apparent ignorance of the fact that we have been passing the buck all the time, expecting luxury goods at cheap prices which means that our clothes and the other accoutrements we have grown accustomed to are made through cheap labour in neighbouring countries instead.

Urban liberals in particular seem to have adapted themselves to this ‘Sex in the City’ lifestyle which has expanded their comfort zone while forgetting the fact that Malaysia is still a country where the rights of workers is rarely protected, where the abuse and exploitation of labour is rife, and where rapid development has been guaranteed through an underground market of illegal foreign labour instead.

In short, we have allowed ourselves to become integrated as part of a profoundly unjust, immoral, exploitative capitalist economic system.

Having done so, however, we now come to realise that our sudden elevation to ‘semi-developed’ status has been nothing more than cosmetic and artificial. Malaysia on its own cannot alter the trading and investment practices of global multinationals that continue to support extremist regimes like the one installed in Israel. Our sense of paralysis and impotence compounds our moral dilemma and we do not know what to do; hence the calls for boycotts as a tool of last resort.

In the end, however, boycotts notwithstanding, we will probably see the slow retreat of foreign capital from Malaysia thanks to the recession more than anything else. If and when this happens, the psycho-social shock to a fragile and dependent society like Malaysia’s will be considerable. The rise of unemployment will occasion a further scramble for limited resources, and in the Malaysian context may well prompt right-wing sectarian ethno-nationalist movements to claim a bigger share of the ever-shrinking pie. How this crisis will be managed will depend on the abilities of the government, and will reflect on whether this country has achieved some degree of social maturity and cohesion (which I frankly do not think has been attained just yet.)

Nonetheless, for those still worried about the calls for boycotts and the implications thereof, let us remind ourselves of some simple realities:

Firstly, these foreign companies have never come to Malaysia or any other developing country for the sake of charity or to be nice to Malaysian citizens and workers. Its not as if one morning one of the CEOs of these multinationals woke up and thought to himself: “I have to invest in Malaysia to give work to the poor folk of Malaysia whom I’ve never met”. Malaysia was simply a convenient destination for them to park their capital thanks to the availability of labour, the tight control of workers (through repressive laws and anti-union legislation) and a pro-capital infrastructure that we had created for them. But let us not be naïve enough to think that any of this was charity on the part of the multinationals, who were quick to relocate as soon as there were other sources of cheap (and controlled, domesticated) labour abroad – first to Vietnam and now to China.

Secondly, let us remember that whatever gains that Malaysian society has made from foreign investment has also been accompanied by losses as well. The social, economic and structural costs for Malaysia have been high too. Our urban-rural demography has been radically altered in too fast a space of time simply because we depopulated our countryside to serve the need of foreign companies in search of cheap labour. The net result is that our agricultural sector has been severely under-developed and under-nourished, leading us to the pitiful situation where we have become a net importer of basic foodstuffs. In our rush to get foreign companies to invest here, we can no longer feed ourselves!

Thirdly, our continued dependency on technology and research from abroad has demonstrated two things: that many of our more developed trading partners had short-changed us and were never intent on sharing any technological know-how in the first place; and that we cannot develop by simply hiring foreign experts or buying off-the-rack technology from the global market. Once again, in the mad rush for developed country status we forgot that research and development, like all academic endeavours, is a slow, generational process that will take time. But a longer-term investment would have perhaps landed us with local talent instead, rather than boasting of any superficial developments or technological breakthroughs that were achieved by foreign experts and consultants working on a mercenary contractual basis.

Fourthly, let us not forget the exploitative nature of the foreign investment we have seen thus far. I am stunned when I read and hear liberals say things like “what about the poor people working at fast food restaurants? And who will take care of them?” Well for a start I don’t think that working as cheap labour frying burgers or cleaning toilets counts as much of a career path in the first place. And we need to ask ourselves how and why we have allowed ourselves to slip into this precarious situation where we have become so dependent of companies that seek cheap, unskilled labour, to make up for the responsibilities of the state in the first place. In other societies – such as some of the states in India that have resisted the entry of multinationals – local governments and societies have been forced to remain resilient and imaginative in finding and creating job opportunities for their citizens rather than allowing them to be bought as cheap
workers on a temporary basis.

The net result of our skewered development over the past three decades has led to the state of economic, cultural and mental dependency we see around us today. But the fact is this: Our rapid development that was unsustainable in the first place was bound to incur a cost on us sooner or later. And today, while facing this crisis in Gaza and not being able to act decisively, we can see how such economic dependency has led to psycho-social and political bondage as well.

Nobody ever said that reclaiming our rights as consumers and our dignity as a people with a culture and history was going to be easy; but the whinging of liberals who are ever-so-scared of losing their burgers and lattes does send a bitter taste down my throat. The figure of deaths in Gaza has passed the seven hundred mark, with more than three thousand wounded and injured. And yet all we can talk about is whether a boycott would work, while the liberals froth at the mouth and stare at their feet. This, then, is the end-result of an uneven developmental model that we should have been more circumspect about from the beginning.

End of part V.

Read more!

Wednesday, January 7, 2009

Palestin: Tanggungjawab Persaudaraan Dan Kemanusiaan



Penulis : Dr Mohd Asri Zainul Abidin

Pembunuhan ganas yang dilakukan oleh Yahudi Israel di Gaza, Palestin amat memilukan. Ia bukan sahaja mencabar perasaan persaudaraan Islam atau ukhuwwah islamiyyah kita, bahkan ia mencemar dan mengotori nilai kemanusiaan sejagat.

Ketika artikel ini ditulis sudah hampir 400 rakyat Gaza yang dibunuh kejam. Di mana Amerika yang kononnya berjuang memerangi pengganas? Pelindung Israel tersebut pantang ada kegiatan yang dianggap ganas yang dilakukan mereka yang mendakwa muslim terus sahaja dia akan besar-besarkan dan tindakan memeranginya secara membabi buta akan dilancarkannya.

Namun setiap kali Israel melakukan keganasan, dialah yang akan mempertahankannya. Tidak jika Amerika itu digelar syaitan. Bahkan ketika Gaza diserang ganas oleh Israel ketika ini, Bush mengistiharkan HAMAS itulah pengganas. Malanglah umat Islam jika masih ingin mengharapkan dari Amerika.

Demokrasi yang kononnya hendak dijuarai oleh Amerika di dunia Arab hanyalah permainan politik semata. Umpamanya Mesir, sekalipun tampuk kuasa yang ada pada hari ini meminggirkan demokrasi dan mengkhianatinya, namun tampuk tersebut terus dipertahankan oleh Amerika disebabkan berbagai kepentingannya.

Antaranya, Mesirlah pada hari ini yang menghalang kemasukan bantuan melalui sempadannya dengan Palestin. Sukar bagi syaitan berwatak malaikat. Saya tidak pasti dengan lobi Yahudi yang kuat dalam politik Amerika, apakah Obama akan mampu berbuat sesuatu?

Beberapa hari saya menyertai demontrasi membantah kekejaman Israel di hadapan Kedutaan Israel di London. Bersama saya Saudara Maszlee Malik yang sedang menyiapkan Ph.D di sini. Beliau banyak menulis dan membabitkan diri dalam isu-isu Palestin. Juga Saudara Wan Saiful Wan Jan, orang melayu yang aktif dalam politik British dan menjadi calon Parti Liberal Konservatif di UK ini.

Ramai yang menyertainya. Bukan sahaja orang Islam dan Arab, turut sertai juga mereka yang bukan muslim yang terdiri daripada ‘orang putih dan tidak putih’ UK ini. Dato’ Seri Shahidan Kassim yang sekali lagi datang ke London juga turut hadir.

Selama seminggu demonstasi berjalan di London. Bukan sahaja di hadapan Kedutaan Israel, orang ramai turut berdemontrasi di hadapan Kedutaan Mesir kerana negara tersebut menutup sempadannya untuk bekalan makanan dan ubatan disalurkan kepada rakyat Palestin.

Hari Sabtu (hari artikel ini ditulis) demontrasi besar di seluruh London akan diadakan. Bantahan dibuat untuk menyelamatkan rakyat Palestin. Ia melepasi batasan kepuakan atau kepartian yang sempit. Jika sesiapa yang hendak membantah Israel pun masih nak kempen parti, ternyata otaknya sama dengan Israel.

Demonstrasi sebegini, mempunyai peranannya yang tersendiri. Saya juga mengharapkan umat Islam dan masyarakat dunia mengadakannya. Ya, bagi umat Islam sepatutnya tugasan kita lebih besar daripada sekadar tunjuk perasaan. Kita diwajibkan membantu saudara seislam kita yang ditindas atau dikejami dengan harta dan nyawa kita.

Firman Allah: (maksudnya)

“Dan apakah yang menghalang kamu (maka kamu) tidak mahu berperang pada jalan Allah dan (untuk menyelamatkan) orang-orang yang tertindas yang terdiri daripada kaum lelaki, perempuan dan kanak-kanak, iaitu mereka yang selalu (berdoa dengan) berkata: “Wahai Tuhan kami! keluarkanlah kami dari negeri ini, yang penduduknya zalim, dan jadikanlah bagi kami daripada pihakMu seorang pemimpin yang mengawal (keselamatan kami), dan jadikanlah bagi kami dari pihakMu seorang pemimpin yang membela kami (dari ancaman musuh). Orang-orang yang beriman, berperang pada jalan Allah; dan orang-orang yang kafir pula berperang pada jalan taghut (pelampau). Oleh sebab itu, perangilah kamu akan pengikut-pengikut syaitan itu, kerana sesungguhnya tipu daya Syaitan itu adalah lemah”. (Surah al-Nisa, ayat 75-76).

Berdasarkan ini, kata al-Imam al-Jasas (wafat 370H):

“Adalah sesuatu yang diketahui umum bahawa telah menjadi iktikad seluruh kaum muslimin; apabila penduduk sesuatu negeri (kaum muslimin) dalam ketakutan dari serangan musuh, dan mereka tidak mampu menghadapinya merasa terancam negeri, nyawa dan kaum mereka, maka ketika itu wajib ke atas seluruh umat untuk keluar mempertahankan kaum muslimin dari serangan musuh. Ini adalah perkara yang tiada khilaf lagi di kalangan umat. Tiada sesiapa pun yang menyatakan harus dibiarkan ditumpahkan darah kaum muslimin” (Abu Bakr al-Jasas, Ahkam al-Quran, 4/312, Beirut: Dar Ihya al-Turath al-`Arabi).

Namun atas kekangan keadaan yang ada. Ramai para pemimpin umat Islam yang tunduk kepada kehendak Amerika, lalu mereka menjadi pelindung secara langsung atau tidak langsung kepada Israel. Lihat sahaja Mesir yang sanggup menutup sempadannya sehingga bantuan makanan dan ubatan tidak dapat sampai kepada rakyat Palestin, sehingga rakyat Palestin tidak dapat melepaskan diri kekejaman Israel.

Kita umat Islam menjadi umat yang tidak terdaya. Bukan sahaja bertindak, bahkan bersuara pun ramai yang takut. Tidak ramai pemimpin seperti Tun Mahathir Mohamad yang lantang dan berani untuk mengkritik dan berusaha membantah Amerika dan Israel. Ramai yang lain bergantung rahmat kepada Amerika. Bahkan bukan sedikit yang sedang ‘mengidam kerusi kuasa’ bertawakal harap dari Amerika.

Maka, di saat ini, sekurang-kurangnya demontrasi, atau apa sahaja bantahan yang tidak bercanggahan dengan Islam hendaklah dilakukan oleh umat Islam yang tidak berkemampuan. Demikian juga bantuan kewangan. Di Malaysia, sepatutnya mereka yang memegang tampuk-tampuk pentadbiran agama, sama ada yang berada di atas kerusi politik, atau istana perlu menjadi kelompok yang paling lantang membantah dan menghulurkan bantuan.

Saya terharu ketika berjumpa dengan sekumpulan wanita British yang tidak beragama Islam, mengikat serban Palestin di tengkok mereka dan memberitahu kami mereka akan mengambil cuti seminggu untuk menyertai bantahan terhadap Israel. Mereka mengedarkan risalah tentang kekejaman Israel.

Malanglah, jika yang mereka yang seperti ini membantah Israel, tetapi golongan yang diberikan amanah menjaga agama tenggelam dalam keempukan takhta dan membisu seribu bahasa. Di mana pula Majlis Fatwa Kebangsaan ketika ini? Tidak adakah fatwa tentang apakah kewajiban umat Islam dalam isu Palestin? Setelah berletihan dengan isu yoga dan pengkid, tidakkah mahu difikirkan isu Palestin pula?

Jika tidak, malanglah bagi umat Islam yang terdedah kepada dunia berita dan maklumat, tiba-tiba tidak mengambil endah tentang apa yang berlaku di Palestin dan tanggungjawab muslim membela saudara-mara kita kaum muslimin. Sabda Nabi s.a.w:

“Bandingan orang-orang mukmin dalam kasih-sayang, kesian dan simpati sama seperti satu jasad. Apabila satu anggota merasa sakit, maka seluruh angota lain turut berjaga malam dan demam” (Riwayat Muslim)

Islam bersikap adil. Islam tidak pernah menyatakan setiap mereka yang tidak menganut Islam itu adalah musuh Islam. Demonstrasi di seluruh dunia pada hari ini turut dilakukan oleh mereka yang bukan Islam. Islam hanya bermusuh dengan mereka yang melancarkan permusuhan dan kezaliman kepada umat Islam. Samada permusuhan itu atas kebencian kepada agama ini, atau atas sikap yang ingin menzalimi orang lain.

Kemudian, Islam tidak menerima dan membantah kezaliman di mana sahaja ia dilakukan. Samada ke atas muslim atau bukan muslim, samada kepada insan atau binatang dan alam. Kita membantah kekejaman ke atas saudara seakidah kita di Palestin atas nama Islam dan kemanusiaan. Orang lain membantah atas dasar kemanusiaan.

Jika mereka yang bukan Islam dizalimi, kita tetap akan membantah atas dasar Islam dan kemanusiaan. Ini kerana prinsip Islam merangkumi prinsip kemanusiaan sejagat. Namun jika ada yang langsung tidak membantah, maka dia tiada prinsip Islam dan prinsip kemanusiaan.
Read more!

Sunday, December 28, 2008

The Modern Barbarians


Israel blitzed the Gaza Strip on Saturday, December 27, with a wave of air strikes, killing at least 155 people in the besieged strip. Thick clouds of smoke billowed into the sky and mangled, bloody, charred corpses littered the streets. At the main police headquarters, some rescue workers beat their heads and shouted "God is greatest" as one badly wounded man lying nearby quietly recited verses from the Qur'an.

"Today we are stronger then we've ever been," said Hamas spokesman Taher Nounou. "We won't raise the white flag, we won't give anything up, we won't retreat. We call on the Arab states in the region to take a stance against this massacre and not to be satisfied with just condemnations."

Israeli Defence minister Ehud Barak said: ‘It won’t be easy and it won’t be short. There is a time for calm and a time for fighting and now the time has come to fight.’

The barbaric Zionists again are starting another holocaust.

إنا لله وإنا إليه راجعون
اللهم اخلفنا في مصيبتنا واخلف لنا خيراً منها

May Allah destroy His enemies, rip them apart and crush them to death.
May Allah burn them in the blazing fire prepared in the hereafter.
May Allah grant our brothers and sisters patience and strength.
May the mujahidin attain victory and the martyrs attain jannah.
May the muslim rulers start actions rather than just watch, organize talks and meetings.
May all of us never forget to pray for our Palestinians brothers and sisters,and do whatever we can to help them.

Quoting IslamOnline on the role of individuals and governments towards Palestinians:

Dr. Sano Koutoub Moustapha:

I believe that all Muslims must do their best to assist oppressed Palestinian people in all possible ways. They must remember them in their supplications. It is a duty upon every Muslim to do so.

As for the specific role of Muslim individuals and governments, I believe that there must be coordination and cooperation between the people and their governments. Certainly, no Muslim individual or decent government would like to see more pain and hardship for the Palestinian people. Therefore, there must be cooperation and strategic move from peoples as well as governments in order to assist the Palestinians in these difficult times.

In other words, individuals must donate as much as they can to the Palestinians, and the governments -- including the Palestinian government -- must find political solutions to this crisis. The interest of the Palestinian people must be above all other interests and considerations.

Muslim leaders should do their best to uproot the causes and sources of this unjust and unfair punishment of Palestinians. Political ideologies and agendas should be put aside for the sake of hungry, thirsty, and oppressed Palestinians.

All individuals and governments must do whatever they can to help the helpless Palestinians by assisting and donating to the legal authorities, either in cash or in kind or even in spirit. It is a sinful act to see fellow Muslims living in hunger and hardship without lending them a helping hand.

May Allah be with the Palestinian people and reward those peoplewho will put an end to this critical and human crisis.
Read more!

Thursday, December 11, 2008

Arak : Tidak Waraskah Kerajaan Selangor?


www.zaharuddin.net

Baru-baru ini penjualan arak di Selangor mendapat perhatian ramai. Ia timbul apabila seorang exconya mencadangkan dibuat kawalan jualannya dengan ketat, sehingga mungkin boleh menyebabkan jualannya di beberapa buah kedai akan dihentikan.
Cadangan ini menerima reaksi pelbagai, beberapa buah wakil parti diwartakan tidak bersetuju dengan cadangan tersebut.

Saya bukanlah orang politik dan tidak pula membaca setiap berita berkenaan hal ini, namun setakat pembacaan ringkas saya dan sebagai ahli akademik saya berpandangan(terkecuali pengusaha arak dan ahli politik yang mendapat saham darinya)

HANYA ORANG KURANG AQAL sahaja yang akan menentang pengehadan dan kawalan penjualan arak.

Mengapa saya membuat kesimpulan demikian?.

Kerana ia haram menurut Islam dan membawa pelbagai kerosakan. Larangan Islam ini amat tepat apabila dilihat pengalaman Negara maju seperti di United Kingdom dan Russia, arak merupakan punca terbesar perilaku jenayah dalam Negara.

Adakah terdapat ahli politik yang suka negeri atau negara di bawahnya dipenuhi jenayah semata-mata kononnya menghormati kebebasan individu, bangsa dan agama ?

PRESTASI ARAK DI UNITED KINGDOM DAN RUSSIA

Menurut statistik rasmi di United Kingdom, Alcohol-related crime adalah seperti berikut :-

* Hampir 45 - 46 % kejadian jenayah, mangsa meyakini bahawa penyerangnya di bawah pengaruh alcohol (arak).

* Angka tadi naik kepada 58% dalam kes serangan oleh individu yang tidak dikenali.

* 39% keganasan dalam rumahtangga melibatkan alcohol (arak)

* Hampir sejuta serangan ganas yang berlaku dalam tahun 2007-2008, dipercayai dilakukan oleh mereka yang sedang mabuk atau separa mabuk.

(Source: British Crime Survey 2007/08)

Manakala di Russia pula, sekitar 72 % kes pembunuhan adalah berkait dengan akibat minuman arak. 42 % pula kes mati bunuh diri hasil dari arak. Menurut Prof Nemtsov, Russia kehilangan (mati) rakyatnya seramai 500,000 ke 750,000 akibat arak. ( sumber )

Tanpa had dan kawalan berkesan, lebih menggerunkan di UK statistik menunjukkan 30% kanak-kanak berumur 11 hingga 15 tahun turut minum arak sekurang-kurangnya sekali seminggu.

Selain penyebab jenayah, arak juga turut memberi impak amat buruk kepada kesihatan.

Seorang doktor di London memaklumkan purata umur pesakit dari kesan arak adalah berumur 20 ke 30 tahun, sebelum ini biasanya mereka yang berumur 50 tahun ke atas sahaja yang kerap ke hospital akibat arak. (rujuk)

Dilaporkan oleh organisasi kesihatan, di United Kingdom jumlah penduduk yang dirawat akibat penyakit dari kesan minuman arak bertambah dua kali ganda sejak sepuluh tahun lepas.

Secara purata rakyat Britain 'menelan' arak sebanyak 9.6 liters arak keras dan tulen secara tahunan, ia lebih dahsyat dari Russia yang mencatatkan 8.7 liter sahaja. Sedangkan Russia diwartakan sebagai negara yang terbanyak ‘peminum arak' sebelum ini.

Hasil dari petikan statistic ringkas ini, adakah masih terdapat parti politik yang begitu ‘TIDAK BERTANGUNGJAWAB' atau dalam bahasa kasarnya ‘BANGSAT' sehingga sanggup mempertahankan penjualan arak dengan MELUAS tanpa kawalan ketat, kononnya dengan hujjah hak kebebasan individu, bangsa, agama tertentu dan hak syarikat?.

Kebenaran penjualannya adalah satu pencabulan hak bagi majoriti masyarakat Malaysia yang lain, kerana ia mendedahkan individu lain dalam keadaan bahaya sebagaimana yang berlaku di UK, Russia dalam lain-lain negara aktif arak.

MENGAPA UK DAN RUSSIA TIDAK HARAMKAN ARAK?

Jika demikian, mengapa kerajaan UK tidak melarang terus penjualan arak?

Situasi sudah berbeza di UK, arak sudah berakar umbi dalam kehidupan masyarakatnya, seolah menjadi satu kewajiban dan identiti bangsanya. Pada masa yang sama ingin dikawal jenayahnya dan keburukan yang terhasil darinya.

Akhirnya akibat pentadbiran kerajaannya yang berdasarkan logik aqal semata-mata, mereka TERPERANGKAP dengan ke'bebal'an mereka sehingga tidak tahu bagaimana membuat keputusan yang tepat.

Pelbagai teknik kawalan sudah dibuat seperti jaualan arak dihadkan hanya pada 10 pagi hingga 10 malam di beberapa kawasan.

Terdapat kedai yang hanya punyai lesen jual arak tetapi pembeli ditegah membuka araknya kecuali di rumah, ada juga undang-undang yang mengehadkan minum hanya di dalam bar dan lain-lain usaha lagi. Semuanya boleh dikatakan GAGAL!.


Jika dilarang semua atau dihadkan penjualannya di beberapa kedai sahaja, mereka bimbang akan ‘bungkuslah' sokongan terhadap parti mereka, hancurlah juga budaya dan identiti mereka sejak turun temurun, akhirnya mereka buntu dan membiarkan keadaan berterusan begitu sahaja. Padahal menurut laporan stesyen TV di UK, berjuta-juta pound sterling malah berbillion habis semata-mata untuk menguruskan masalah ini. Adakah logic di sebaliknya?. Amat merugikan.

Keadaan kronik dan arak berakar umbi ini MASIH BELUM berlaku di Malaysia, lalu amat MESTI semua pihak menerima cadangan pengehadan penjualannya, ketatkan premis yang dibenarkan menjualnya, ia wajar sebagai langkah permulaan menjauhkan masyarakat Malaysia dari apa jua bangsa dan agama dari arak yang amat mudah membawa jenayah.

Semua bangsa akan mabuk akibat arak dan jenayah tidak mengenal bangsa dan agama apabila mabuk menjelma.

ARAK TIDAK SALAH TAPI ORANG ?

Saya yakin, penyokong-penyokong arak akan mengatakan arak tidak salah, yang salah adalah individu yang meminumnya lebih had, ketika memandu dan di waktu yang tidak sesuai.

Jika demikian, mengapa pula dadah diharamkan dan dipersalahkan?. Padahal kesannya keduanya adalah hampir sama sahaja. Kedua-duanya membawa kemabukan dan khayal serta amat berpotensi membawa pelbagai jenayah dan masalah kesihatan.

PANDANGAN ISLAM UNTUK KEBAIKAN SEMUA

Dalam Islam, arak itu sendiri adalah haram atau dilarang. Sama ada minum sedikit atau banyak adalah sama sahaja larangannya. Demikian juga dadah. Sabda Nabi s.a.w

ما أسكر كثيره فقليله حرام

Ertinya : Apa-apa yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnya juga haram ( walaupun belum memabukkan) ( Riwayat Ahmad, Tirmizi, Abu Daud : Ibn HIbban : Sohih )

Ayat al-Quran dan hadis berkenaannya terlalu banyak dan amat biasa kita baca. Islam mengakui wujudnya manfaat kecil dari arak tetapi manfaatnya adalah berdiri di atas kehancuran pihak yang lain. Sama seperti judi, yang menang sememangnya gembira namun ia menang di atas kekalahan pihak yang lain.

Firman Allah swt :

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَآ أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا

"Mereka bertanyakan kepada kamu tentang arak dan judi, katakanlah (kepada mereka) pada kedua-duanya terdapat dosa yang besar dan kebaikan kepada manusia, dan dosa pada kedua-duanya lebih banyak dari kebaikan" (Al-Baqarah : 219)

Lagi Allah menegaskan :-

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Ertinya : Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah ( DIHARAMKAN) perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan ( Al-Maidah : 90)

Terbukti secara teori dalam ilmu Islam dan realiti dari statistik yang diberikan, arak adalah salah satu punca utama jenayah, selagi ruang dan peluang dibuka seluasnya selagi itulah manusia akan melakukan kesalahan mabuk.

Kerana itu nabi menyebut :-

الخمر أم الخبائث

Ertinya : Arak itu adalah ibu kepada kejahatan ( Hadis Hasan : Albani ; Silsilah Ahadith As-Sohihah, 1854)

Justeru, hasil beberapa fakta ringkas yang disertakan bersama artikel ini, saya menyeru pemimpin politik di Malaysia agar menjadi lebih bertanggungjawab dan bijak dalam menguruskan masalah arak di Malaysia.

Gunakan kuasa dengan tepat dan adil, selaras dengan perjuangan kamu. Adil dalam konteks arak adalah mengharamkannya dalam penjualan bebas.

JANGAN HARAMKAN ARAK KERANA SOKONGAN NON MUSLIM?

Apabila difikir balik, mengapa ingin kita benarkan non-muslim minum arak ?

Mengapa ingin dibiarkan bangsa selain Melayu minum arak?

Adakah ia menjadi ajaran dan fahaman agama mereka.?

Disebutkan di dalam bible :

"Do not get drunk on wine, which leads to debauchery. Instead, be filled with the Spirit" (Ephesians 5:18).

Saya faham, kristian terdapat agama yang membenarkan minuman arak dengan syarat tidak mabuk kerana mabuklah yang membawa keburukan.

Malah seorang penulis kristian setelah mengulas isu minum arak mabuk dan tidak mabuk mengatakan :

Alcohol is a dangerous chemical. A person may not drive drunk, but we now know that alcohol damages brain cells and other body tissues. And for us parents who have to be concerned about the behaviors we are modeling, abstinence is the best choice (sumber )

Kebanyakan agama samada melarang terus arak, sebahagian yang lain tidak menggalakkan dan mengehadkannya.

Info dari Wikipedia menyebut :

" Islam, Sikhism, Jainism, the Bahá'í Faith, The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints, the Seventh-day Adventist Church, the Theravada and most Mahayana schools of Buddhism, some Protestant sects of Fundamentalist Christianity and Hinduism - forbid, discourage, or restrict the consumption of alcoholic beverages for various reasons. "

Many Christian denominations use wine in the Eucharist and permit the use of alcohol in moderation, while others use unfermented grape juice in the Eucharist and abstain from alcohol by choice or prohibit it outright.

Buddhist texts recommend refraining from drugs and alcohol, because they may inhibit mindfulness.

Bahá'ís are forbidden from using alcohol or drugs for non-medical reasons. Bahá'u'lláh writes "alcohol leaded the mind astray and causes the weakening of the body." (Wikipedia.org)

Memang benar, terdapat sebahagian ajaran kristian yang membenarkan arak dalam upcara tertentu sebagai yang tercatat di atas, namun pengkajian lebih mendalam akan mendapati kristian terbahagi kepada tiga jenis pandangan dalam hal arak. Majoriti mereka mengharamkannya.

Justeru, bagi menghormati hak kumpulan yang membenarkan sememangnya boleh dibenarkan penggunaan arak buat mereka.

Namun demikian, mekanisme pemantauan dan pencegahaan dari kebenaran kepada kumpulan ini disalahgunakan mesti difikirkan, kerana penjualan sebagaimana yang terdapat hari ini bukan lagi kerana menghormati hak penganut kristian malah ia untuk tujuan bisnes kepada umum sehingga amat mudah diperolehi oleh semua kumpulan masyarakat.

Selagi lagi dingatkan bahawa ia boleh dibenarkan tetapi dalam keadaan yang cukup terkawal khas bagi penganut kristian yang berpegang kepada harusnya arak dengan syarat dilarang minum sehingga mabuk dan tidak mengganggu hak kesemalatan individu lain.

Mereka mesti fikirkan bagaimana untuk memantau SYARAT AGAR TIDAK MABUK mampu ditepati. Itu tindakan yang perlu jika mereka masih ingin membenarkan penjualan arak. Selagi ahli exco yang menentang pengehadan jualan ini gagal membentangkan plan kawalannya dengan menyakinkan, sepatutnya penjualan mesti disekat.

Masalah sebenarnya kini, bagaimana sebuah negara atau negeri atau kerajaan boleh mengawal penganutnya agar minum sekadar di bawah paras mabuk.? Ia amat sukar untuk dikawal, sekali ia dijual dan mudah diperolehi, ia telah berada di luar kawalan sebenarnya. Buktinya, statistik di UK dan Russia tadi.

Bagaimana pula hak majoriti agama yang mengharamkannya secara total ?.

Bagaimana pula hak orang ramai yang tidak ingin terjerumus sebagai mangsa jenayah akibat mereka yang minum arak berlebihan sehingga mabuk.?

Bandingkan dengan dadah, mengapa dadah kelas A, B dan C diharamkan secara total sedangkan penggunaan dadah yang terhad juga tidak memabukkan.

Justeru mengapa semua BANGSA DAN AGAMA boleh menerima pengharaman dadah tetapi dalam bab arak ingin kita benarkannya kepada non muslim atas pilihan mereka. Logikkah?

Sebuah pemerintah yang bijak dan baik adalah BUKAN SEMATA-MATA TUNDUK kepada kehendak buruk rakyatnya, tetapi memandu mereka dengan keputusan bijak untuk semua.

Sedangkan kerosakan dan jenayah yang terhasil dari ARAK dan DADAH adalah meliputi semua jenis bangsa dan agama.

Kerana itu, sebagai langkah awal MENURUT kaedah ‘tadarruj' atau BERANSUR-ANSUR, MELARANG penjualan bebas di kedai 24 jam, stesyen minyak, pasar mini dan kedai runcit serta lain-lain premis yang memudahkan sesiapa juga mendapatkannya PERLU DILAKUKAN.

Cukai berkenaannya perlu dinaikkan agar menghalang minat peniaga menjualnya. Ia sesuai sebagai langkah mula kepada mewujudkan negara dan masyarakat tanpa arak yang memudaratkan.

Ia bukan agenda POLITIK ISLAM semata, tetapi ia amat sesuai dijadikan agenda bagi mana-mana parti politik yang WARAS dan inginkan Kebaikan BUAT RAKYAT DALAM JANGKA PANJANG.

Jangan terperangkap dengan manfaat dan keuntungan wang ringgit hasil pelaburannya. Jika nilai wang ringgit dan pelaburan dijadikan ukuran. Eloklah Malaysia membenarkan dibuka kilang penghasilan DADAH terbesar di dunia. Untung bukan?! Tatkala itu jadilah kerajaan yang paling ‘Rendah IQ' di dalam dunia.

Bila ahli politik mahu menunjuk terlalu pandai akhirnya mereka menjadi ‘bebal'. Apabila cadangan yang bermanfaat kononnya diteliti semasak-masaknya akhirnya kesimpulan mereka boleh menjadi ‘tidak matang'.

Kalau mereka kata :

"kita dedahkan rakyat kepada bahaya arak, kemudian kita serahkan kepada rakyat memilih sendiri sama ada untuk minum atau tidak"

Ia sekali lagi keputusan yang amat pelik dan bukan keputusan dari seorang pemimpin negeri atau Negara. Pemimpin sebenar adaah sentiasa melakukan keputusan yang mendorong kebaikan buat rakyatnya walaupun ia mungkin tidak popular dan menyukarkan. Seperti mewajibkan setiap pemandu kereta memakai tali pinggang keledar, mematuhi had laju, menambah lampu ketiga kereta dan lain-lain. Ia memang adakalanya menyusahkan, tetapi bermanfaat untuk individu dan orang lain.

Dalam Islam pula, Allah menegaskan :-

أَيَحْسَبُ الأِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدىً

Ertinya : Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)? ( Al-Qiyamah : 36 )

Bermakna, adakah manusia akan dibiarkan oleh tuhannya tanpa sebarang tanggungan seperti arahan dan larangan, kemudian dibiarkan sahaja di alam kuburnya, dan tiada sebarang kebangkitan dan perbicaraan akhirat?

Dalam konteks ini, pimpinan yang menjalankan tugas memimpin manusia kepada tuhan, amat wajar meletakkan arahan bagi rakyatnya dan larangan serta tidak dibiarkan rakyat membuat pilihan sendiri sentiasa sedangkan ia bakal membawa kerosakan kepada semua.


AKHIRNYA

Saya masih gagal memahami mengapa EXCO Selangor dari parti DAP dan KeADILan masih tidak boleh bersetuju untuk mengurangkan arak di Selangor. Apa hujjah kukuh mereka apabila berhadapan dengan statistic kerosakan akibat arak? Cadangannya bukan untuk mengharam terus ( kerana sedar ada agama membenarkan) tetapi hanya mengurangkan jualan bagi mengawal masalah mabuk dan membawa jenayah.

Adakah mereka sedang memperjuangkan hak bukan Islam di negeri Selangor?. Hak untuk minum arak dan membeli arak di mana-mana yang mereka suka?.

Hak, membiarkan kanak-kanak mudah membeli dan meminum arak.

Hak untuk membiarkan kebebasan ramai sehingga statistik teruk hasil arak di UK dan Russia berlaku di Malaysia?

Sesuaikah memperjuangkan satu hak yang membawa kerosakan kepada individu dan masyarakat ?

Memang sesuai jika itu adalah pemimpin politik tanpa prinsip atau dirinya sendiri peminum arak dan di bawah pengaruh arak.

Saya teringin juga membaca ulasan ‘bijak' oleh sesiapa sahaja untuk memberitahu kepada saya berkenaan kebaikan penjualan arak secara terbuka dan faedah meminumnya kepada individu dan rakyat ramai.

AKHIRNYA, sebagai langkah permulaan menghindari kejahatan dari arak, saya bersetuju dengan cadangan ahli Majlis Perbandaran Klang yang mencadangkan:

1. Penjualan arak juga hendaklah dilakukan di satu sudut yang agak tertutup dan memaparkan dengan jelas papan tanda yang menyatakan bahawa penjualan arak kepada umat Islam adalah merupakan satu kesalahan.

2. Manakala kaunter penjualan arak hendaklah dikendalikan oleh orang yang bukan Islam. Mereka juga hendaklah memisahkan kaunter pembayaran barangan tidak halal dibuat di kaunter khas yang dijaga oleh bukan Islam.

3. Mengeluarkan lesen perniagaan daripada MPK dengan syarat tidak menjual arak kepada premis seperti berikut:
a. Kedai 7-Eleven
b. Kedai runcit/pasar mini (seperti 99 )/kedai ubat
c. Restoran /kedai makan yang terbuka (restoran yang tertutup sahaja dibenarkan)
d. Kiosk stesyen stesyen minyak.


Fikirkanlah..rakan-rakan
Read more!

Thursday, November 6, 2008

Barack Hussein Obama

It seems that eveybody is excited about the Obama phenomenon. Not only the americans, but also the people all over the world. Watching him delivering yesterday's speech,i can understand why he won the presidential race and made it to the White House.

Surely it's not about his good looks, but he is a man with charisma, cool, down to earth,grateful and a good speaker. He did not attack his rival violently. Now the world is hoping for fresher air. Does it matter who is the president? Yes. Because we hope for the less evil from the 2 evils. We hope that he will deliver his promises to close the Guantanamo Bay and to pull the US troops out of Iraq. We hope that the muslims' condition will be better and the war in Iraq and Afghanistan will end.

So is it permissible for muslims to vote for kaafirs who seem to be less evil? Here is the answer from Sheikh Muhammed Salih Al-Munajjid taken from www.islam-qa.com

Praise be to Allaah.

This is a matter concerning which rulings may differ according to different circumstances in different times and places. There is no absolute ruling that covers all situations, both real and hypothetical.

In some cases it is wrong to vote, such as when the matter will have no effect on the Muslims, or when the Muslims have no effect on the outcome of the vote. In this case voting or not voting is all the same. The same applies in cases where all the candidates are equally evil or where they all have the same attitude towards Muslims…

It may be the case that the interests of Islam require Muslims to vote so as to ward off the greater evil and to reduce harmful effects, such as where two candidates may be non-Muslims but one of them is less hostile towards Muslims than the other, and Muslims’ votes will have an impact on the outcome of the election. In such cases there is nothing wrong with Muslims casting their votes in favour of the less evil candidate.

In any case, this is the matter of ijtihaad based on the principle of weighing up the
pros and cons, what is in the interests of Islam and what is detrimental. With
regard to this matter, we have to refer to the people of knowledge who understand this principle. We should put the question to them, explaining in detail the circumstances and laws in the country where the Muslim community is living, the state of the candidates, the importance of the vote, the likely benefits, and so on.

No one should imagine that anyone who says that it is OK to vote is thereby expressing approval or support for kufr. It is done in the interests of the Muslims, not out of love for kufr and its people. The Muslims rejoiced when the Romans defeated the Persians, as did the Muslims in Abyssinia (Ethiopia) when the Negus defeated those who had challenged his authority. This is well known from history. Whoever wants to be on the safe side and abstain from voting is allowed to do so. This response applies only to elections for influential positions. And Allaah knows best.

P/s: Going through the news, in Dewan Rakyat yesterday, somebody is calling somebody bloody bastard.Oh Malaysian politicians, when will u behave?



Read more!